Rabu, 04 April 2012

Psikologi Pendidikan


DAFTAR ISI

BAB    I           : PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP ILMU JIWA
PENDIDIKAN
BAB    II         : PERANA ILMU JIWA PENDIDIKAN DALAM DUNIA
PENDIDIKAN
BAB    III        : TEORI-TEORI PSIKOLOGI PENDIDIKAN
BAB    IV        : PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN MANUSIA
BAB    V         : PEMBAWAAN DAN LINGKUNGAN
BAB    VI        : CIRI-CIRI KEMATANGAN
BAB    VII      : KEMAMPUAN DAN INTELEGENSI
BAB    VIII     : TIPE-TIPE DAN KESULITAN BELAJAR
















BAB I
PENGERTIAN DAN RUANG
LINGKUP ILMU JIWA PENDIDIKAN

1.      Pengertian Ilmu Jiwa Pendidikan
Ilmu jiwa pendidikan yang lebih dikenal dengan psikologi pendidikan terdiri dari dua kata, yaitu Psikologi dan Pendidikan. Psikologi terdiri dari dua kata bahasa Yunani, yaitu psyche yang berarti jiwa dan logos yang berarti ilmu. Jadi secara harfiah psikologi berarti ilmu tentang jiwa atau ilmu jiwa.
Menurut Barlow, psikologi pendidikan sebuah pengetahuan berdasarkan riset psikologi yang menyediakan serangkaian sumber-sumber untuk membantu anda melaksanakan tugas sebagai seorang guru dalam proses belajar-mengajar secara lebih efektif.
Menurut Alice Crow, ilmu jiwa pendidikan studi tentang belajar, pertumbuhan dan kematangan individu serta penerapan prinsip-prinsip ilmiah tentang reaksi manusia yang mempengaruhi mengajar dan belajar.
Berdasarkan beberapa definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa psikologi pendidikan adalah ilmu jiwa pendidikan ialah ilmu pengetahuan yang menyelidiki gejala-gejala kejiwaan (tingkah laku) individu di dalam situasi pendidikan.
2.      Ruang Lingkup Ilmu Jiwa Pendidikan
Pendidikan pada hakikatnya adalah pelayanan yang khusus diperuntukkan bagi siswa. Karena itu, ruang lingkup pokok bahasan psikologi pendidikan selain teori-teori psikologi pendidikan sebagai ilmu, juga berbagai aspek psikologis para siswa khususnya ketika mereka terlibat dalam proses belajar-mengajar.
Crow and Crow mengemukakan bahwa data yang dicoba didapatkan oleh psikologi pendidikan, yang dengan demikian merupakan ruang lingkup psikologi pendidikan, antara lain.
a.       Sampai sejauh mana faktor-faktor pembawaan dan lingkungan berpengaruh terhadap belajar.
b.      Sifat-sifat dari proses belajar.
c.       Hubungan antara tingkat kematangan dengan kesiapan belajar (learning readiness).
d.      Signifikansi pendidikan terhadap perbedaan-perbedaan individual dalam kecepatan dan keterbatasan belajar.
e.       Perubahan-perubahan jiwa (inner changes) yang terjadi selama dalam belajar.
f.       Hubungan antara prosedur-prosedur mengajar dengan hasil belajar.
g.      Teknik-teknik yang sangat efektif bagi penilaian kemajuan dalam belajar.
h.      Pengaruh/akibat relatif dari pendidikan formal dibandingkan dengan pengalaman-pengalaman belajar yang insidental dan informal terhadap suatu individu.
i.        Nilai/manfaat sikap ilmiah terhadap pendidikan bagi personel sekolah.
j.        Akibat/pengaruh psikologi (psychological impact) yang ditimbulkan oleh kondisi-kondisi sosiologis terhadap sikap para siswa.
Dari seluruh proses pendidikan kegiatan belajar siswa merupakan kegiatan yang paling pokok. Hal ini bermakna bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak terpulang kepada proses belajar siswa baik ketika ia berada di dalam kelas maupun di luar kelas.















BAB II
PERANAN ILMU JIWA PENDIDIKAN
DALAM DUNIA PENDIDIKAN

Guna ilmu jiwa pendidikan bagi guru atau calon guru adalah dengan mempelajari ilmu jiwa pendidikan, guru dapat mengetahui hakikat gejala-gejala kejiwaan anak, cara belajar  dan bimbingannya serta bagaimana cara mengawasi hasil belajar yang tepat.
Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa pendekatan psikologi pendidikan adalah pendekatan ilmiah. Karenanya disamping sebagai psikologi praktis, psikologi pendidikan juga bersifat teoritis.  Kembali kemasalah belajar-mengajar dan hubungannya dengan psikologi pendidikan, unsur utama dalam pelaksanaan sebuah system pendidikan di mana pun adalah proses belajar mengajar. Di tengah-tengah proses edukatif (bersifat kependidikan) ini tak terkecuali apakah di tempat formal atau non formal, terdapat seorang tokoh yang disebut guru. Sumber pengetahuan yang dapat membantu atau menolong guru dalam mengelola belajar-mengajar tersebut adalah psikologi praktis dan psikologi pendidikan.
Secara umum psikologi pendidikan mmerupakan alat bantu yang penting bagi para penyenggara pendidikan dalam mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Mengapa demikian, karena prinsip yang terkandung dalam psikologi pendidikan dapat dijadikan landasan berpikir dan bertindak dalam mengelolah proses belajar-mengajar. Sedangkan proses tersebut, sebagaimana telah dijelaskan, adalah unsur utama dalam pelaksanaan setiap system pendidikan.
Inti persoalan psikologis dalam proses pendidikan adalah terletak pada anak didik, sebab pendidikan pada hakikatnya adalah pelayanan bagi anak didik. Agar pelayanan itu mengubah tingkah laku anak didik ke arah  perkembangan pribadi yang optimal, maka pelayanan itu hendaknya sesuai dengan sifat dan hakikat anak didik. Hal ini merupakan inti pembahasan dari psikologi pendidikan





BAB III
TEORI-TEORI PSIKOLOGI BELAJAR

1.      Teori-Teori Belajar Psikologi Behavioristik.
Teori belajar psikologi behavioristik dikemukakan oleh para psikolog behavioristik. Mereka ini sering disebut “contemporary behaviorists” atau juga disebut “ S - R psychologists”. Mereka berpendapat, bahwa tingkah laku manusia itu dikendalikan oleh ganjaran (reward) atau penguatan (reinforciment) dari lingkungan. Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi-reaksi behavioral dengan stimulasinya.
a.       Teori-Teori yang Mengawali Perkembangan Psikologi Behavioristik.
Psikologi aliran behavioristik mulai berkembang sejak lahirnya teori-teori tentang belajar yang dipelopori oleh Thorndike, Pavlov, Watson, dan Guthrie. Mereka masing-masing telah mengadakan penelitian yang menghasilkan penemuan-penemuan yang berharga mengenai hal belajar.
Teori belajar Thorndike disebut “connectionism” karena belajar merupakan proses pembentukankoneksi-koneksi antara stimulus dan respon. Teori ini sering disebut “trial and error learning”. Cirri belajar trial and error yaitu :
1.      Ada motiv pendorong aktivitas
2.      Ada berbagai respon terhadap situasi
3.      Ada eleminasi respon-responyang gagal/salah
4.      Ada kemajuan reaksi-reaksi mencapai tujuan
Dari penilitiannya itu Thorndike menemukan hukum-hukum :
1.      Law of readiness
2.      Law of exercise
3.      Law of effect
Watson berpendapat, bahwa belajar merupakan proses terjadinya refleks-refleks atau respon-respon bersyarat melalui stimulus pengganti. Sedangkan menurut Guhtrie adalah suatu kombinasi stimulus yang telah menyertai suatu gerakan.

b.      Skinner’s Operant Conditioning.
Skinner menganggap “reward” atau “reinforcement” sebagai faktor terpenting dalam proses belajar. Skinner berpendapat, bahwa tujuan psikologi adalah meramal dan mengontrol tingkah laku.
Dalam pengajaran, “operants conditioning” menjamin respon terhadap stimulus. Apabila murid tidak menunjukkan reaksi-reaksi terhadap stimulus, guru tidak mungkin dapat membimbing tingkah lakunya kearah tujuan behavior.
2.      Teori-Teori Belajar Psikologi Kognitif.
Dalam teori ini berpendapat, bahwa tingkah laku seseorang tidak hanya dikontrol oleh reward dan reinforcement. Aliran kognitifis berpendapat, tingkah laku seseorang senantiasa didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana tingkah laku itu terjadi. Dalam situasi belajar, seseorang terlibat langsung dalam situasi itu memperoleh “insight” untuk pemecahan masalah.
a.       Awal Pertumbuhannya Teori-Teori Belajar Psikologi Kognitif.
Psikologi kognitif mulai berkembang dengan lahirnya teori belajar gestalt. Suatu konsep yang terpenting dalam psikologi gestalt adalah tentang “insight”, yaitu pengamatan atau pemahaman mendadak terhadap hubungan-hubungan antar bagian-bagian di dalam situasi permasalahan.
b.      Teori Belajar “Cognitive Field” dari Lewin.
Kurt Lewin (1892-1947), mengembangkan suatu teori belajar “cognitive field” dengan menaruh perhatian kepada kepribadian psikologi sosial. Lewin memandang masing-masing individuberada di dalam suatu medan kekuatan, yang bersifat psikologis.
c.       Teori Belajar “Cognitive Developmental” dari Piaget.
Piaget adalah seorang psikolog “developmental” (proses berpikir), menurut Piaget pertumbuhan kapasitas mental memberikan kemampuan-kemampuan mental baru yang sebelumnya tidak ada. Pertumbuhan intelektual adalah tidak kuantitatif, melainkan kualitatif.
d.      Jerome Bruner “Discovery Learning” nya.
J. Bruner mengambil pendapat Piaget yang menyatakan bahwa anak harus berperan secara aktif di dalam kelas. Untuk itu, Bruner memakai cara dengan apa yang disebut “discovery learning”, yaitu di mana murid mengorganisasi bahan yang dipelajari dengan suatu bentuk akhir.
3.      Teori-Teori Belajar Psikologi Humanistis.
a.       Orientasi.
Perhatian psikologi humanistik yang tertuju pada masalah bagaimana tiap-tiap individu dipengaruhi dan dibimbing oleh maksud-maksud pribadi yang mereka hubungkan kepada pengalaman-pengalaman mereka sendiri.
b.      Awal Timbulnya Psikologi Humanistis.
Psikologi humanistis muncul tahun 1940, orang-orang yang terlibat  dalam penerapan psikologilah yang berjasa dalam perkembangan ini, misalnya ahli psikologi klinik dan pekerja sosial, bukan merupakan hasil dari penilitian dalam bidang proses belajar. Psikologi ini berusaha untuk memahamiperilaku seseorang dari sudut si pelaku (behaver), bukan dari pengamat (observer).
c.       Behaviorisme Versus Humanistis.
Psikologi behavioral dan humanistis mempunyai pandangan yang sangat berbeda yang dikenal dengan freedom determination issue. Para behavioris memandang orang sebagai makhluk reaktif yang memberikan respon terhadap lingkungannya. Sebaliknya para humanis mempunyai pendapat bahwa tiap orang itu menentukan perilaku mereka sendiri.
d.      Tokoh-Tokoh Humanistis.
1.      Combs
Combs dan kawan-kawan menyatakan bahwa apabila kita ingin memahami perilaku orang kita harus mencoba memahami dunia persepsi orang itu. Perilaku buruk itu sesungguhnya tak lain hanyalah dari ketidakmauan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan kepuasan baginya.
2.      Maslow
Teori didasarkan atas asumsi bahwa di dalam diri kita ada dua hal :
Pertama, suatu usaha yang positif untuk berkembang. Kedua ,kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu.
Pada diri masing-masing orang mempunyai berbagai perasaan takut seperti rasa takut untuk berusaha atau berkembang dan sebagainya. Tetapi mendorong untuk maju kearah keutuhan, ke arah kepercayaan diri menghadapi dunia luar dan pada saat itu juga ia dapat menirima diri sendiri (self).
3.      Rogers
Dalam bukunya “Freedom to Learn”, ia menunjukkan sejumlah prinsip-prinsip belajar humanistic yang penting, di antaranya :
1.      Manusia itu mempunyai kemampuan untuk belajar secara alami.
2.      Belajar yang signifikan terjadi apabila subject metter dirasakan murid.
3.      Belajar yang menyangkut suatu perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya sendiri.
4.      Tugas-tugas belajar yang mengancam diri adalah lebih mudah dirasakan.
5.      Pengalaman dapat diperoleh dengan cara yang berbeda-beda dan terjadilah proses belajar.
6.      Belajar yang bermakna diperoleh siswa dengan melakukannya.
7.      Belajar diperlancar bilamana siswa dilibatkan dalam proses belajar.
8.      Belajar atas inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi siswa yang seutuhnya.
9.      Kepercayaan terhadap diri sendiri, kemerdekaan, kreatifitas.
10.  Belajar yang paling berguna secara sosial di dalam dunia modern ini adalah belejar mengenai proses belajar.
4.      Tujuan Belajar
Adapun tujuan belajar adalah sebagai berikut :
a.      Belajar adalah suatu usaha, perbutan yang dilakukan secara sungguh-sungguh.
b.      Belajar bertujuan mengadakan perubahan di dalam diri antara lain tingkah laku.
c.      Belajar bertujuan mengubah kebiasaan, dari yang buruk menjadi baik.
d.     Dengan belajar dapat mengubah keterampilan.
e.      Belajar bertujuan menambah pengetahuan dalam berbagai bidang ilmu.
5.      Prinsip-Prinsip Belajar
Dalam proses belajar itu terdapat beberapa prinsip dalam belajar adapun prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut :
a.       Kematangan Jasmani dan Rohani
b.      Memiliki Kesiapan dalam Proses Belajar
c.       Memahami Tujuan dalam Belajar
d.      Memiliki Sifat Kesungguhan dalam Belajar.
e.       Ulangan dan Latihan (Evaluasi)
6.      Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar
Berhasil atau tidaknya seseorang dalam belajar disebabkan beberapa faktor yang mempengaruhi pencapaian hasil belajar yaitu berasala dari dalam diri orang yang belajar dan ada pula dari luar dirinya.
Di bawah ini dikemukakan faktor-faktor yang menentukan pencapaian hasil belajar, di antaranya :
a.       Faktor Internal (yang Berasal dari dalam Diri)
Faktor internal di bagi lagi menjadi beberapa bagian, antara lain :
1.      Kesehatan Jasmani dan Rohani
2.      Intelegensi dan Bakat
3.      Minat dan Motivasi
4.      Cara Belajar
b.      Faktor Eksternal (yang Berasal dari Luar Diri)
Faktor eksternal juga di bagi menjadi beberapa bagian, di antaranya :
1.      Faktor Keluarga
2.      Faktor Sekolah
3.      Faktor Masyarakat, dan
4.      Faktor Lingkungan Sekitar











BAB IV
PERTUMBUHAN DAN
PERKEMBANGAN MANUSIA

1.      Pertumbuhan
Pertumbuhan dapat diartikan sebagai perubahan kuantitatif pada materiil sesuatu sebagai akibat dari adanya pengaruh lingkungan. Perubahan kuantitatif ini dapat berupa pembesaran atau pertambahan dari tidak ada menjadi ada, dari kecil menjadi besar, dan sebagainya.
Dari uraian diatas dapat diartikan pertumbuhan pribadi sebagai berubahan kuantitatif pada materiil pribadi sebagai akibat dari adanya pengaruh lingkungan, Seperti rambut, tulang, dan sebagainya itu tidak dapat dikatakan berkembang melainkan bertumbuh atau tumbuh.
2.      Peristiwa Pertumbuhan Pribadi Manusia
Peristiwa pertumbuhan pribadi manusia bertolak dari peristiwa awal herediter. Manusia terbentuk dari materiil yang lemah (Genetis). Manusia secara genetis mula-mula terjadi dari satu sperma dan satu telur. Satu sperma memasuki sebuah telur dan satu individu baru mulai membentuk diri. Kehidupan awal dari individu sangat dipengaruhi oleh kondisi ibu yang mengandungnya. Sedangkan peranan ayah dalam menumbuhkan individu baru hanyalah memberikan kemungkinan yang tepat agar individu itu terkonsep.
3.      Hukum-Hukum yang Mengatur Pertumbuhan
Dalam pertumbuhan itu ada hukum-hukum yang mengaturnya, adapun hukum-hukumnya adalah sebagai berikut :
a.       Pertumbuhan Adalah Kuantitatif serta Kualitatif
b.      Pertumbuhan Merupakan suatu Proses yang Berkesinambungan dan Teratur
c.       Tempok Pertumbuhan Adalah Tidak Sama
d.      Taraf Perkembangan Berbagai Aspek Pertumbuhan Adalah Berbeda-Beda
e.       Kecepatan seta Pola Pertumbuhan dapat Dimodifikasi oleh Kondisi-Kondisi di Dalam dan di Luar Badan
f.       Masing-Masing Individu Tumbuh Menurut Caranya Sendiri yang Unik
g.      Pertumbuhan Adalah kompleks, dan Semua Aspeknya Saling Berhubungan

4.      Aspek-Aspek yang Mempengaruhi Pertumbuhan
Pertumbuhan yang menyangkut perubahan materiil dan struktur fisiologis, sangat dipengaruhi oleh aspek-aspek tertentu yang mana aspek-aspek itu sendiri saling berhubungan. Adapun aspek-aspek yang mempengaruhi pertumbuhan meliputi :
a.       Anak Sebagai Keseluruhan
b.      Umur mental anak mempengaruhi pertumbuhan
c.       Permasalahan Tingkah Laku Sering Berhubungan Dengan Pola-Pola Pertumbuhan
d.      Penyesuaian Pribadi dan Sosial Mencerminkan Dinamika Pertumbuhan.
5.      Pertumbuhan Fisik yang Normal
Pertumbuhan tidak selalu diikuti dengan perkembangan. Anak atau orang dewasa dapt tumbuh menjadi sanagt gemuk dan berat, namun pertumbuhan semacam itu belum tentu diikuti dengan kematangan yang berarti atau efektivitas pribadi yang besar.
Dapat kita simpulkan bahwa tumbuh adalah berbeda dengan berkembang. Pribadi yang tumbuh mengandung arti yang berbeda dengan pribadi yang berkembang. Karena itu, dibedakan antara pertumbuhan dan perkembangan. Dalam pribadi manusia, baik yang jasmaniah maupun yang rohaniah, terdapat dua bagian yang berbeda sebagai kondisi yang menjadikan pribadi manusia berubah menuju kearah kesempurnaan. Adapun dua bagian kondisional pribadi manusia itu meliputi
a.       Bagian pribadi materiil yang kuantitatif
b.      Bagian pribadi fungsional yang kualitatif
Kenyataan itulah yang melahirkan perbedaan konsep antara pertumbuhan dan perkembangan.
6.      Perkembangan
Perkembangan pribadi dapat diartikan sebagai perubahan kualitatif dari setiap fungsi kepribadian akibat dari pertumbuhan dan belajar. Fungsi-fungsi kepribadian manusia berhubungan dengan aspek jasmaniah dan aspek kejiwaan. Fungsi-fungsi kepribadian yang jasmaniah misalnya :
a.       Fungsi motorik pada bagian-bagian tubuh
b.      Fungsi sensoris pada alat-alat indra
c.       Fungsi neurotik pada system saraf
d.      Fungsi seksual pada bagian-bagian tubuh yang erotis
e.       Fungsi pernapasan pada alat pernapasan
f.       Fungsi peredaran darah pada jantung dan urat-urat nadi
g.      Fungsi pencernaan makanan pada alat pencernaan
Sedangkan fungsi-fungsi kepribadian yang bersifat kejiwaan, misalnya :
a.       Fungsi perhatian
b.      Fungsi pengamatan
c.       Fungsi tanggapan
d.      Fungsi ingatan
e.       Fungsi fantasi
f.       Fungsi pikiran
g.      Fungsi perasaan
h.      Fungsi kemauan.
7.      Hukum-Hukum Perkembangan
Perkembangan yang tidak dapat dipisahkan dari pertumbuhan, kematangan fungsi-fungsi jasmaniah sangat mempengaruhi perubahan pada fungsi-fungsi kejiwaan. Adapun hukum-hukum dalam perkembangan adalah sebagai berikut :
a.       Perkembangan adalah kualitatif
b.      Perkembangan sangat dipengaruhi oleh proses dan hasil dari belajar
c.       Usia sangat mempengaruhi perkembangan
d.      Masing-masing individu mempunyai tempo perkembangan yang berda-beda
e.       Dalam keseruhan periode perkembangan, setiap spesies berkembang individu mengikuti pola umum yang sama
f.       Perkembangan dipengaruhi oleh hereditas dan lingkungan
g.      Perkembangan lambat dapat dipercepat
h.      Perkembangan meliputi proses  individuasi dan integrasi
8.      Tahap-Tahap Perkembangan Pribadi Manusia
Perkembangan pribadi manusia meliputi beberapa aspek perkembangan, antara lain perkembangan fisiologis, perkembangan psikologis, perkembangan sosial, dan perkembangan didaktis atau pedagogis. Tahap-tahap perkembangan untuk tiap-tiap aspek tersebut tidaklah sama. Berikut ini dikemukakan tahap-tahap pada tiap-tiap aspek secara umum.
a.       Tahap-taha perkembangan fisiologis
Freud mengemukakan adanya 6 tahap perkembangan fisiologis manusia yang meliputi :
1.      Tahap oral (umur 0 sampai 1 tahun)
2.      Tahap anal (antara umur 1 tahun sampai 3 tahun)
3.      Tahap falish (antar umur 3 tahun sampai 5 tahun)
4.      tahap talent (antar 5 tahun sampai 12 dan 13 tahun)
5.      tahap pubertas (antara umur 12/13 tahun sampai 20 tahun)
6.      Tahap genital (antara umur 20 tahun dan seterusnya)
b.      Tahap-tahap perkembangan psikologis
Perkembangan psikilogis pribadi manusia dimulai sejak masa bayi hingga masa dewasa. Menurut Jean Jacques Rousseau (1712-1778), perkembangan fungsi dan kapasitas kejiwaan manusia berlangsung dalam 5 tahap, sebagai berikut :
1.      Tahap perkembangan masa bayi (sejak lahir sampai umur 2 tahun)
2.      Tahap perkembangan masa kanak-kanak (antara umur 2 tahun sampai 12 tahun)
3.      Tahap perkembangan pada masa preadolesen (antara umur 12 tahun sampai 15 tahun)
4.      Tahap perkembangan pada masa adolesen (antara umur 15 tahun sampai 20 tahun)
5.      Tahap masa pematangan diri (setelah berumur 20 tahun)
9.      Tahap-Tahap Perkembangan Secara Pedagogis
Tahap-tahap perkembangan pribadi manusia secara pedagogis dapat dikemukakan di sisni menurut dua sudut tinjauan, yaitu dari sudut tinjauan teknis umum penyelenggaraan pendidikan dan dari sudut tinjauan teknis khusus perlakuan pendidikan.
a.       Tahap perkembangan pribadi manusia dari sudut tinjauan teknis umum penyelenggaraan pendidikan adalah :
1.      Tahap enam tahun pertama, tahap perkembangan fungsi pengindaraan
2.      Tahap enam tahun kedua, tahap perkembangan fungsi ingatan dan imajinasi
3.      Tahap enam tahun ketiga, tahap perkembangan fungsi intelektual
4.      Tahap enam tahun keempat, tahap perkembangan fungsi kemampuan berdikari
5.      Tahap kematangan pribadi.
b.      Tahap perkembangan pribadi manusia dari sudut tinjauan teknis khusus perlakuan pendidikan adalah :
1.      Untuk tahap perkembangan pre-natal
2.      Untuk anak dalam tahap perkembangan vital
3.      Untuk anak dalam tahap perkembangan ingatan
4.      Untuk anak dalam tahap perkembangan keakuan
5.      Untuk anak dalam tahap perkembangan pengamatan
6.      Untuk anak dalam tahap perkembangan intelektual
7.      Untuk anak dalam tahap perkembangan pra-remaja
8.      Untuk anak dalam tahap perkembangan remaja
9.      Untuk anak dalam tahap perkembangan pematangan pribadi atau kedewasaan
Teori-teori yang mempunyai pengaruh terhadap praktek-praktek pendidikan disekolah di antaranya sebagai berikut :
a.       Teori Nativisme
Menurut teori ini anak sejak lahir membawa sifat-sifat dan dasar-dasar tertentu, sifat-sifat dan dasar-dasar yang dibawa sejak lahir itu dinamakan sifat-sifat pembawaan.
b.      Teori Empirisme
Menurut teori ini manusia tidak memiliki pembawaan. Seluruh perkembangan hidupnya sejak lahir sampai dewasa semata-mata ditentukan oleh faktor dari luar atau faktor lingkungan hidup dan pendidikan.
c.       Teori Naturalisme
Menurut teori ini manusia itu pada dasarnya baik, ia jadi buruk dan jahat karena pengaruh kebudayaannya.


d.      Teori Rekapitulasi
Teori ini mengatakan bahwa perkembangan individu merupakan ulangan dari perkembangan jenisnya.
e.       Teori konvergensi
Teori ini berpendapat bahwa manusia dalam perkembangan hidupnya dipengaruhi oleh bakat atau pembawaan dan lingkungan, atau oleh dasar dan ajar.

























BAB V
PEMBAWAAN DAN LINGKUNGAN

1.      Pembawaan
Setiap individu yang lahir ke dunia dengan suatu hereditas tertentu. Ini berarti, bahwa karakteristik individu diperoleh melalui pewarisan/pemindahan dari cairan-cairan “germinal” dari pihak orang tua.warisan atau keturunan yang dibawa anak sejak dari kandungan sebagian besar berasal dari kedua orang tuanya dan selebihnya berasal dari nenek dan moyangnya dari kedua belah pihak (ayah dan ibunya). Adapun pembawaan seorang anak dari sejak lahir adalah :
a.       Bentuk tubuh dan warna kulit
Salah satu warisan yang dibawa oleh anak sejak lahir adalah mengenai bentuk tubuh dan warna kulit. Misalnya anak yang memiliki bentuk tubuh gemuk seperti ibunya, wajah seperti ayahnya, warna kulit seperti ibunya.
b.      Sifat-sifat
Sifat-sifat yang dimiliki seseorang adalah salah satu aspek yang diwarisi dari ibu, ayah, atau nenek dan kakek. Bermacam-macam sifat yang dimiliki manusia, misalnya : penyabar, pemarah, kikir, dan sebagainya.
c.       Intelegensi
Intelegensi adalah kemampuan yang besrsifat umum untuk mengadakan penyesuaian terhadap suatu situasi atau masalah. Kemampuan yang bersifat umum tersebut meliputi berbagai jenis kemampuan spikis seperti : abstrak, berpikir, memahami dan sebagainya.
d.      Bakat
Bakat adalah kemampuan khusus yang menonjol di antara berbagai jenis yang dimiliki seseorang. Misalnya kemampuan khusus (bakat) dalam bidang seni musik, olahraga, matematika, dan sebagainya.
e.       Penyakit atau cacat tubuh
Beberapa  jenis penyakit atau cacat tubuh ada yang berasal dari turunan, seperti penyakit kebutaan, saraf, dan sebagainya.


2.      Lingkungan
Lingkungan sebenarnya mencakup segala material dan stimulus di dalam dan di luar individu, baik yang bersifat fisiologis yaitu, segala kondisi dan material jasmaniah di dalam tubuh seperti gizi, vitamin, dan sebagainya. Yang bersifat psikologis yaitu, mencakup segenap stimulasi yang diterima oleh individu sejak dalam konsesi, kelahiran sampai matinya. Misalnya, perasaan, keinginan, dan sebagainya. Adapun yang bersifat sosio cultural yaitu, mencakup segenap stimulasi, interaksi, dan kondisi dalam hubungannya dengan perlakuan ataupun karya orang lain. Misalnya latihan, belajar, pendidikan, dan sebagainya. Adapun macam-macam lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak yaitu :
a.      Lingkungan Keluarga
b.      Lingkungan Sekolah
c.      Lingkungan Masyarakat
d.     Lingkungan Keadaan Alam Sekitar
3.      Pengaruh Hereditas dan Lingkungan Terhadap Perkembangan Individu
Setiap perkembangan pribadi seseorang merupakan hasil interaksi antara hereditas dan lingkungan. Individu dan perkembangannya adalah produk dari hereditas dan lingkungan. Heriditas dan lingkungan sama-sama berperan penting bagi perkembangan individu.
Jadi, jelaslah bahwa ada dan sangat mungkin adanya hubungan dan pengaruh hereditas dan lingkungan terhadap pertumbuhan dan perkembangan individu. Hubungan dan pengaruh itu adalah :
a.       Dalam bidang pertumbuhan dan perkembangan fisik
b.      Dalam bidang pertumbuhan dan perkembangan mental
c.       Dalam budang kesehatan mental dan emosi serta kepribadian
d.      Dalam hal sikap-sikap, keyakinan, dan nilai-nilai.






BAB VI
CIRI-CIRI KEMATANGAN

Menurut teori Konvergensi bahwa perkembangan manusia itu dipengaruhi oleh 2 faktor utama, yaitu dasar dan ajar (bakat dan lingkungan). Keduanya sangat berpengaruh, bukan hanya dasar dan bukan hanya ajar. Adapun tentang perkembangan para ahli mengemukakan beberapa prinsip sebagai berikut.
a.       Prinsip konvergensi, bahwa perkembangan itu ditentutakan oleh dasar dan ajar, pembawaan dan lingkungan.
b.      Prinsip kematangan, efek usaha belajar itu di tergantung pada kematangan seseorang dalam suatu fungsi.
c.       Fungsi-fungsi psikis berkembang bersama-sama, tidak timbul secara berurutan seperti pada teori Rekapitulasi.
d.      Perkembangan meliputi diferensi dan integrasi.
e.       Prinsip kesatuan organis.
f.       Prinsip tempo dan irama perkembangan.
g.      Tiap golongan individu (species) mempunyai pola perkembangan yang sama.
h.      Pertumbuhan dan perkembangan membutuhkan asuhan.
Tentang perkembangan itu sendiri para ahli mengemukakan sebagai berikut:
a.       Menurut Aristoteles
Pembagiannya berdasarkan adanya perubahan-perubahan jasmani yang penting ialah lebih kurang umur 7 tahun pertukaran gigi, umur lebih kurang 14 tahun, tumbuhnya tanda-tanda kelamin sekunder lainnya.
Pembagiannya:
0 – 7 tahun, periode anak kecil,
7 – 14 tahun, periode anak sekolah,
14 – 21 tahun, periode pemuda.
b.      Menurut Chalotte Buchler
Pembagiannya adalah sebagai berikut, umur:
1.                              0 – 7 tahun,     masa timbulnya dinamika dari subjek menuju ke objek.
2.                              2 – 4 tahun,     masa menyadari “aku”-nya. Dia mengenal dunia secara subjektif.
3.                                                   5 – 8 tahun,       masa memasukkan diri ke dalam masyarakat menuju kepada objekvitas.
4.                                                   9 – 13 tahun,     masa memisahkan diri sendiri dari orang lain.
5.                                                   14 – 19 tahun, masa mempertemukan sikap ke dalam dan ke luar.
c.       Menurut Masrun, MA
1.      0 - 2 tahun,                  masa vital.
2.      2 – 6 tahun,                 masa kanak-kanak.
3.      6 – 12 tahun,               masa sekolah.
4.      12 – 18 tahun,             masa remaja.
5.      18 – 21 tahun,             masa transisi dari remaja menuju dewasa.
6.      21 -  24 tahun,             telah matang jasmani dan rohaninya.
1.      Hubungan Intelegensi dengan Kehidupan Seseorang
Memang kecerdasan/intelegensi seseorang memainkan peranan yang penting dalam kehidupannya. Akan tetapi, kehidupan adalah sangat kompleks. Intelegensi bukan satu-satunya faktor sukses tidaknya kehidupan seseorang, seperti faktor kesehatan, dan ada tidaknya kesempatan.
Banyak di antara orang-orang yang sebenarnya memiliki intelegensi yang cukup tinggi, tetapi tidak mendapat kemajuan dalam kehidupannya. Ini disebabkan oleh, kekurang mampuan bergaul dengan orang lain dalam masyarakat, atau kurang memiliki cita-cita yang tinggi. Jelaslah sekarang bahwa tidak terdapat korelasi yang tetap antara tingkatan intelegensi dengan tingkat kehidupan seseorang.
a.       Dasar-dasar biologis tingkah laku
Tingkah laku individu didasari oleh pertumbuhan biologisnya. System saraf merupakan penggerak tingkah laku manusia secara biologis. System saraf terdiri atas komposisi sel-sel yang disebut neurons. Tiap- tiap neurons mengandung tenaga yang berasal dari  proses kimiawi dan elektronik. Apabila mendapat stimulasi, neurons melepaskan dorongan-dorongan elektronis yang merangsang gerakan neurons lainnya guna merangsang gerakan urat-urat dan otot-otot tubuh.
b.      Perubahan-perubahan dalam otak yang menimbulkan kematangan
Perkembangan struktur dan fungsi otak tampak sempurna atau hamper sempurna pada saat anak tiba saatnya masuk sekolah dasar. Pada umur-umur setelah 6 tahun, terjadilah perubahan-perubahan penting dalam struktur otak, namun perkembangan kapasitas mental lebih banyak diakibatkan karena pengalaman atau belajar.
c.       Kematangan membentuk readinees
Kematangan disebabkan karena perubahan “genes” yang menentukan perkembangan struktur fisiologis dalam system saraf, otak dan indra sehingga semua itu memungkinkan individu matang mengadakan reaksi-reaksi terhadap setiap stimulus lingkungan.
Kematangan adalah keadaan atau kondisi, bentuk, struktur, dan fungsi yang lengkap atau dewasa pada suatu organism, baik terhadap satu sifat, bahkan seringkali semua sifat.
2.      Lingkungan atau Kultur Sebagai Penyumbang Pembentukan Readiness
Memang, anak megalami pertumbuhan, dan pertumbuhan fisiknya merupakan penyumbang terpenting bagi pembentukan readiness, akan tetapi kita tidak boleh melupakan bahwa perkembanganmereka tergantung pada pengaruh lingkungan dan kultur disamping akibat tumbuhnya pla-pola jasmaniah. Stimulasi lingkungan serta hambatan-hambatan mental individu mempengaruhi perkembangan mental, kebutuhan dan lain sebagainya.
a.       Readiness dalam belajar
1.      Pengertian dan prinsip-prinsip pembentukan readiness
Seseorang  baru dapat belajar tentang sesuatu apabila dalam dirinya sudah terdapat “readiness” (kemampuan) untuk mempelajari sesuatu itu. Sesuai dengan kenyataan, bahwa masing-masing individu mempunyai perbedaan individual, maka masing-masing individu mempunyai sejarah atau latar belakang perkembangan yang berbeda-beda. Hal ini menyebabkan adanya pola pembentukan readiness yang berbeda-beda pula di dalam diri masing-masing individu.
2.      Kematangan sebagai dasar daripada pembentukan readiness
Individu mengalami pertumbuhan material jasmaniahnya. Kecepatan pertumbuhan pada masing-masing individu tidak sama. Perbedaan itu dapat disebabkan oleh karena pengaruh fisiologis, psikologis, dan bahkan sosial.

b.      Kematangan emosional orang tua.
1.      Perasaan dan emosi marah
Marah pada pemuda timbul karena “social slighting”, yaitu kebimbangan pemuda akan status sosialnya yang belum jelas dan stabil.
2.      Perasaan dan emosi kasih saying
Pemuda mulai mempersempit hubungan-hubungan kasih sayangnya. Rasa kasih sayang yang kuat dicurahkan kepada seorang teman istimewanya, entah teman istimewa itu orang yang lebih tua maupun sebaliknya, baik wanita maupun pria.
3.      Perasaan dan emosi takut
Rasa takut pada pemuda timbul karena kedudukannya yang terasa asing kebimbangan akan status sosialnya yang menentu dan jelas. Pernyataan takut itu dinyatakan dalam bentuk kata-kata (tongue tied).
4.      Kematangan emosional orang tua dan pengaruhnya
Keadaan dan kematangan emosional orang tua mempengaruhi perkembangan anak serta menetukan taraf pemuasan kebutuhan-kebutuhan psikologis yang penting pada anak dalam kehidupannya dalam keluarga. Dan taraf pemuasan kebutuhan psikologis itu akan pula mempengaruhi dan menentukan proses pendewasaan anak tersebut.













BAB VII
KEMAMPUAN DAN INTELEGENSI

1.      Kemampuan
a.      Pentingnya Mengenal Anak Didik
Kita harus mengenal hal-hal yang umum yang terdapat pada semua anak, dan hal-hal yang unik dan khusus. Hal-hal yang umum merupakan dasar dan norma yang akan menolong pembimbing mengetahui ciri-ciri unik pada tiap-tiap anak. Faktor-faktor umum yang perlu dikenal ialah :
1.      Hakikat anak, anak bukan manusia dalam bentuk kecil atau seorang dewasa minus beberapa hal yang belum dimiliki.
2.      Kebutuhan pokok anak, tiap-tiap anak membutuhkan hal-hal tertentu.
3.      Langkah-langkah perkembangan, perkembangan anak meliputi segi-segi jasmani, jiwa dan rohani juga.
Dapat disimpulkan bahwa semua orang yang ikut berpartisipasi dalam proses pendidikan dan pengajaran anak, hendaknya mengenal pribadi anak didik.
b.      Hukum Perkembangan
Hukum perkembangan adalah patokan generalisasi, mengenai sebab akibat terjadinya peristiwa perkembangan dalam diri manusia.
1.      Hukum Kovergensi
Perkembangan manusia pada dasarnya tidak hanya dipengaruhi oleh faktor pembawaan sejak lahir, tetapi juga oleh lingkungan pendidikan.
2.      Hukum pertahanan dan pengembangan diri
Setiap manusia memiliki dorongan dan hasrat mempertahankan diri dari hal-hal negatif, seperti rasa sakit, rasa tidak aman, dan sebagainya.
3.      Hukum masa peka
Peka artinya mudah terangsang atau mudah menerima stimulus. Masa peka adalah masa yang tepat yang terdapat pada diri anak untuk mengembangkan fungsi-fungsi tertentu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar