Rabu, 04 April 2012

Fisafat Islam


BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Epistimologi Islam telah berhasil menyusun klasifikasi ilmu yang komprehensif dan disusun secara hienarkis, yaitu metafisika menempati posisi tertinggi, disusul oleh matematika, dan terakhir, ilmu-ilmu fisik.
Imuan-ilmuan muslim mengakui status antologis dari bukan hanya objek-objek indrawi, melainkan juga objek-objek nonindrawi. Namun, sebagaimana observasi indra  bisa keliru, dan arena itu dibutuhkan ferifikasi terhadap hasil-hasilnya, demikian juga penelitian akal bisa saja keliru, kalau kita tidak mematuhi aturan-aturan berpikir yang benar, yang kita sebut logika. Logika secara formal telah dirumuskan oleh Aristoteles, merupakan metode ilmiah yang digunakan akal dalam memahami objek-objek nonfisik.
Hasil penelitian rasional oleh para filosof muslim luar biasa besarnya. Berjilid-jilid filosof dan ilmuan muslim menuliskan hasil-hasil riset mereka, baik yang bersifat filosof maupun yang ilmiah. Meskipun demikian, perlu diingat bahwa akal bukan satu-satunya alat yang bisa kita gunakan untuk menangkap realitas-realitas nonfisik karena selain akal, manusia juga dikarunia oleh tuhan dengan hati, atau intuisi, yang bisa digunakan untuk tujuan tersebut.
B.     Rumusan Masalah
1.      Biografi dan pandangan al-kindi tentang filsafat?
2.      Filsafat Pengetahuan Epistemologi Al-Kindi
3.      Biografi Al-Farabi
4.      Filsafat Pengetahuan Epistemologi Al-Farabi



BAB  II
PEMBAHASAN

A.    Epistimologi Filsafat Al-Kindi
1.      Biografi Al-Kindi
Nama Al-Kindi dari nama sebuah suku, yaitu : Banu Kindah yaitu suku keturunan kindah, yang berlokasi di daerah selatan Jazirah Arab. Nama lengkap: Abu Yusuf, Ya’kub Ibnu Ishak, Al-Sabah, Ibnu Imron, Ibnu Al-Asha’ath, Ibnu Kais Al-Kindi, lahir tahun 801 M di Kufa.
Al-Kindi (801-873 M), di dunia barat terkenal dengan nama Al-Kindus. Beliau adalah keturunan bangsawan Arab dari kerajaan Kinda {yaman}lahir di Basroh pada tahun 185 H anak Ishak Al-Sabbah, gubenur di Kufa (Iraq) pendidikannya bermulai di basroh dan dilanjutkan di bagdad .beliau adalah seorang tabib, ahli Bintang dan Filosof.[1]
2.      Pandangan Al-Kindi Tentang Filsafat
Pemikiran al-kindi cukup besar dan mendasar terutama di bidang filsafat, fisika, metafisika, epistimologi dan etika, ia berusaha mempertemukan filsafat dan agama.menurut al-kindi filsafat adalah ilmu tentang kebenaran atau ilmu yang termulia dan tertinggi martabatnya, agama juga merupakan ilmu mengenai kebenaran. Dalam risalahnya yang ditujukan kepada al-muktasim ia menyatakan bahwa filsafat adalah ilmu yang termulia serta terbaik dan yang tidak bisa ditinggalkan oleh setiap orang yang berfikir. Kata-kata ini ditunjukkan kepada mereka yang menentang filsafat dan mengikarinya, karna dianggap sebagai ilmu kafir dan menyiapkan jalan kepada kekafiran. Sikap mereka inilah yang selalu menjadi rintangan bagi filosof Islam.[2]

Menurut al-kindi, Filsafat adalah ilmu tentang hakikat (kebenaran) sesuatu menurut kesanggupan manusia, yang mencakup ilmu ketuhanan, ilmu keesaan, ilmu keutamaan, ilmu tentang semua yang berguna dan cara memperolehnya serta cara menjauhi perkara-perkara yang merugikan.
Dan pemikiran di bidang metafisika lebih di titikberatkan kepada masalah hakikat tuhan, bukti_bukti dan sifat Tuhan. Menurutnya Tuhan adalah wujud yang hak(benar). Yang asalnya tidak ada menjadi ada, Ia selalu ada dan akan selalu ada jadi Tuhan adalah wujud sempurna yang tidak didahului oleh wujud yang lain.[3]
Al-kindi mengemukakan tiga jalan untuk membuktikan adanya Tuhan yaitu:
1.      Tidak mungkin ada benda yang ada dengan sendirinya, jadi wajib ada yang menciptakannya dari ketiadaan dan pencipta itulah Tuhan .
2.      Dalam alam tidak mungkin ada keragaman tanpa keseragaman atau sebaliknya. Tergabungnya keragaman dan keseragaman bersama-sama bukanlah karna kebetulan, tetapi karna sesuatu sebab. Sebab pertama itulah Tuhan.
3.      Kerapian alam tidak mungkin terjadi tanpa ada yang merapikan (mengaturkan)nya.yang mengaturnya ialah Tuhan[4]
Disamping itu al_kindi juga membuktikan wujud Tuhan dengan menggunakan tiga jalan:
Ø  Barunya alam, alam ini baru dan ada permulaan waktunya, karena alam ini terbatas, oleh karena itu yang menyebabkan alam ini tercipta dan tidak mungkin ada sesuatu benda yang ada dengan sendirinya. Maka ia di ciptakan oleh penciptanya dari tiada.
Ø  Keanakaragaman dalam wujud,  keanekaragaman disini adalah ada yang menyebabkan, atau ada sebab. Sebab itu bukanlah alam itu sendri, tetapi sebab yang ada berada di luar alam lebih mulia dan lebih dahulu adanya karena sebab harus ada sebelum akibat .
Ø  Kerapian alam, bahwa alam lahir tidak mungkin rapi dan teratur kecuali adanya zat yang tidak tampak, yang zat tisak tampak itulah hanya dapat diketahui dengan melalui bekas-Nya.[5]
3.      Filsafat Pengetahuan Al-Kindi
Ada tiga macam pengetahuan manusia, yaitu :
a.       Pengetahuan Indrawi
Ini terjadi langsung ketika orang mengamati terhadap sasuatu objek material dan dalam proses yang tanpa tenggang waktu dan tanpa upaya berpindah ke imajinasi kemudian ketempat penampungannya yang di sebut hafizah. Pengetahuan dengan jalan ini selalu berubah ,selalu dalam keadaan menjadi, bergerak berlebih kurang  kuantitasnya dan berubah-ubah kualitasnya.
b.      Penetahuan Rasional
Pengetahuan tentang sesuatu yang di dapat dan diperoleh dengan menggunakan akal bersifat universal, tidak persial, bersifat immaterial. Objeknya bukan individu, tetapi genus dan sepecies. Orang mengamati manusia sebagai yang di amati itu bersifat materi.dan orang tersebut mengamati manusia dengan akal fikirannya atau menyelidiki hingga memperoleh suatu kongklusi yaitu manusia adalah makhluk yang berfikir.
c.       Pengetahuan Israqi
Pengetahuan yang langsung diperoleh dari pancaran nur ilahi.pengetahuan  seperti ini di peroleh oleh para nabi  dengan tanpa upaya, tanpa bersusah payah, terjadi karna kehendak Allah semata-mata, dengan jalan itu Allah membersihkan jiwa mereka dan mempersiapkan jiwa mereka dalam untuk menerima kebenaran-Nya. Pengetahuan ini khusus diturunkan oleh Allah kepada para nabi yang dipilih-Nya. Pengetahuan israqi tersebut juga selain Nabi pun dapat memperolehnya tetapi derajatnya di bawah yang diperoleh oleh para Nabi. Hal-hal ini mungkin terjadi pada oramg-orang yang suci jiwanya.[6]

B.     Epistimologi Filsafat Al-Farabi
1.      Biografi Al-Farabi
Abunasr Muhammad Al-Farabi (870 – 950 M). beliau adalah seorang muslim keturunan Parsi, yang didirikan di kota Farab (Turkestan), Putra Muhammad Ibn Auzalgh seorang panglima perang parsi dan kemudian diam di Damsyik. Al-Farabi belajar di Baghdad dan Harran, kemudian ia pergi ke Siria dan Mesir. Sebutan Al-Farabi diambil dari nama kota Farab, di mana ia dilahirkan pada tahun 257 H (870 M). Ayahnya adalah seorang Iran dan Kawin Turkestan. Kemudian ia menjadi perwira tentara Turkestan. Karena itu, Al-Farabi dikatakan berasal dari keturunana turkestan dan kadang-kadang juga dikatakan dari keturunanan iran. [7]
Beliau adalah seorang tabib kenamaan, seorang ahli ilmu pasti dan seorang filsuf yang ulung. Ia juga terkenal sebagai seorang ahli dalam bahasa-bahasa Yunani, Arab, Parsi, Suria Dan Turki. Beliau melebihi Al-Kindi baik memberi penjelasan dan tafsir umum maupun dalam menerjemahkan dan menyusun kembali dari sisi kitab-kitab yunani.[8]


2.      Filsafat Pengetahuaan Al-Farabi
Dalam filsafat emanasinya, Al-farobi mengatakan bahwa tuhan merupakan wujud pertama dan dengan pemikiran tersebut,timbullah wujud ke dua yang  memiliki substansi. Kemudian, al-farobi menyebutnya dengan akal pertama yang immaterial. Wujud ke dua berfikir tentang wujud pertama, yang kemudian muncullah wujud ke tiga yang disebut Akal kedua berfikir tentang tuhan, lalu lahirlah Langit Pertama.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                   
Akal ke dua berfikir tentang tuhan, lalu muncul akal ketiga dengan tafakkur kepada dirinya mewujudkan alam bintang. Begitulah rangkaian pemancaran itu berlangsung hingga sampai pada akal kesepuluh.[9]
Al-Farabi menyuguhkan awal hidup adalah akal, bahkan tuhan adalah subtansi sebagai akal pertama. Pemikiran tentang tuhan sebagai wujud pertama melahirkan subtansi suatu wujud yang kemudian di sebutnya sebagai akal kedua, semuanya bukan materi, melainkan subtansi yang nantinya saling memikirkan dan memunculkan berbagai tingkatan akal.adapun akal yang ada dalam daya berfikir manusia dibaginya menjadi tiga tingkatan yaitu:
        
1.      Al-‘aql al-hayulani, yaitu akal potensial atau material intellect. Akal serupa ini baru berada dalam potensi untuk melepaskan arti-arti atau bentuk-bentuk dari materinya
2.      Al-aql bi al-fi’li, yaitu akal actual atau actual intellect. Akal serupa ini  telah melepaskan arti-arti dari materinya serta dapat mewujudkan akal potensial menjadi wujud actual yang sebenarnya.
3.      Al-aql al –mustafad atau acquired intellect, yaitu akal yang telah mampu menangkap bentuk-bentuk semata-mata dikaitkan dengan materi, dan telah dapat berkomunikasi dengan akal kesepuluh serta mampu menangkap ide-ide atau gagasan-gagasan
Pemikiran Al-Farabi yang paling menarik , berkaitan dengan akal ini adalah pandangannya bahwa akal potensial baru dapat mengerti arti dan bentuk dari materi dengan bantuan panca indra  artinya bahwa tanpa bantuan panca indra, akal potensial masih belum memiliki kemampuan menangkap arti dan bentuk materi dengan demikian panca indar sebagai alat bantu bagi akal potensial yang dimiliki manusia. Adapun akal aktual telah memiliki kesanggupan menangkap arti dan konsep, sekalipun tanpa bantuan panca indra. pandangan ini sepadan dengan pandangan Rene Descartes, yang menyatakan bahwa panca indra yang mengalami sesuatu atau empirical movement, gerakan empiris hanyalah perangsang bagi pikiran dalam membentuk ide-ide yang konseptual .sementara al-farobi melanjutkan bahwa akal mustafad telah sanggup mengadakan hubungan langsung dengan akal ke sepuluh atau akal aktif yang di dalamnya terdapat bentuk-bentuk segala sesuatu yang ada semenjak azali[10]
Jika di bandingkan antara paham rasionalisme dan paham tentang emanasi Al-Farabi, khususnya pandangan tentang kedudukan akal pandangan al-Farabi lebih luar biasa di bandingkan dengan pandangan Rene Descartes.
Dapat di tarik kesimpulan bahwa sumber pengetahuan yang paling ideal adalah akal yang dapat di golongkan pada jenis-jenis dibawah ini:
Ø  Akal Awwam
Ø  Akal Khawash
Ø  Akal Potensial
Ø  Akal Aktual
Ø  Akal Mustafad.
Ø  Orang-orang Awwam hanya memiliki akal potensial.[11]


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat tiga cara atau metode dalam epistemology Islam untuk menangkap atau mengetahui objek-objek ilmu. Pertama, melalui indra yang sangat kompeten untuk mengenal objek-objek fisik dengan cara mengamatinya (Pengetahuan Indrawi). Kedua, melalui akal yang mampu mengenal bukan saja benda-benda indriawi dengan cara mengabtraksi makna universal dari data-data indrawi, melainkan objek-objek nonfisik dengan cara menyimpulkan dari yang telah diketahui menuju yang tidak diketahui (Pengetahuan Rasional). Ketiga, hati yang menangkap objek-objek nonfisik atau metafisika melalui kontak langsung dengan objek-objeknya yang hadir dalam jiwa seseorang (Pengetahuan Israqi). Dengan demikian, seluruh rangkaian wujud yang menjadi objek-objek ilmu pemgetahuan yang fisik dan nonfisik dapat diketahui oleh manusia.
Al-Farabi menyuguhkan awal hidup adalah akal, bahkan Tuhan adalah subtansi sebagai akal pertama. Pemikiran tentang tuhan sebagai wujud pertama melahirkan subtansi suatu wujud yang kemudian di sebutnys sebagai akal ke dua. semuanya bukan materi, melainkan subtansi yang nantinya saling memikirkan dan memunculkan berbagai tingkatan akal.adapun akal yang ada dalam daya berfikir manusi dibaginya menjadi tiga tingkatan: Al-‘Aql Al-Hayulani, Al-Aql Bi Al-fi’li dan Al-Aql Al –Mustafad.




DAFTAR PUSTAKA

Muzairi. 2009. Filsafat Umum. Yogyakarta: Teras
Soebandi, Beni Ahmad. 2009. Filsafat Islam. Bandung: CV. Pustaka Setia
Sudarsono. 2004. Filsafat Islam. Jakarta: PT Rineka Cipta






Revisi Makalah

MENGENAL EPISTEMOLOGI FILSAFAT
AL-KINDI DAN AL-FARABI

Di susun untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Ilmu
Prodi PAI Jurusan Tarbiyah


 












Oleh :


Khoiri Fadli                 : 084 081 168




Dosen Pembimbing:
Khoirul Faizin, M,Ag
NIP.19710612 2006-04 1 001



SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) JEMBER
Desember 2009



 

KATA PENGANTAR


Bismillahirrahmannirrohim
Segala puja dan puji syukur saya panjatkan kehadiran Allah SWT. Tuhan semesta alam penguasa dan pencipta alam semesta. Beribu-ribu bingkisan shalawat dan salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada junjunngan kita Nabi besar Muhammad SAW, yang telah mana beliau membawa kita dari zaman jahiliyah menuju zaman terang-benderang yaitu Ad-Dinul Islam.
            Dengan taufiq dan hidayah-Nya, Allhamdullilah kami bisa menyelesaikan tugas makalah Program Study filsafat ilmu dengan judul epistimologi al-kindi dan al-farobi dapat kami selesaikan walaupun dengan jangka waktu yang cukup lama dan masih banyak terdapat kekurangan. Hal ini dapat dimaklumi karena kemampuan kami sangatlah terbatas dan kodrat kami sebagai manusia yang tak lepas dari salah dan lupa. Penyelesaian dan penulisan makalah ini melalui proses yang cukup panjang dan telah banyak melibatkan bantuan oranag lain. Oleh karna itu, dengan rasa hormat dan kerendahan hati, saya menghaturkan untaian terima kasih kepada:
1.      Orang tua yang telah memberi motifasi kepada saya
2.      Dosen pembimbing yang telah membimbing saya.
3.      Dan segenap pihak yang telah membantu menyelesaikan makalah ini.
Hanya kepada Allah SWT jualah saya menyerahakn semua kebaikan yang telah diberikan, karena hanya Dialah yang dapat membalas kebaikan hamba-Nya dengan kebaikan yang setimpal. Amin!
            Akhirnya, saya menyadari bahwa banyak terdapat kekurangan dalam makalah ini, atas itu semua dengan tangan terbuka dan rasa hormat saya membuka diri unutk berdialog dan menerima saran dan kritik siapa saja demi kesempurnaan tugas-tugas selanjutnya. Semoga Allah SWT selalu memberikan hidayah-Nya bagi kita semua. Amin!


ii
 

DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL .................................................................................       
KATA PENGANTAR ...............................................................................        ii
DAFTAR ISI ..............................................................................................        iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang..................................................................................        1
B. Rumusan Masalah ............................................................................        1
BAB II PEMBAHASAN
A. Epistimologi Filsafat Al-Kindi .........................................................        2
B. Epistimologi Filsafat Al-Farabi.........................................................        5
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ......................................................................................        8
iii
 
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................        9


[1]  Sudarsono. Filsafat Islam, PT Rineka Cipta, Jakarta, 2004, Hal : 21
[2]  Beni Ahmad Saebandi, Filsafat Ilmu, CV Pustaka Setia, Bandung, , Hal : 84
[3]   Sudarsono , Filsafat Islam, PT Rineka Cipta, Jakarta, 2004 Hal : 25
[4] Ibid, Hal : 26
[5]  Sudarsono ,  Filsafat Islam, PT Rineka Cipta, Jakarta, 2004 Hal : 26
[6] Sudarsono , Filsafat Islam, PT Rineka Cipta, Jakarta, 2004 Hal : 28
[7]  Sudarsono , Filsafat Islam, PT Rineka Cipta, Jakarta, 2004 Hal : 30
[8] Muzairi, Filsafat Umum, Teras, Yogyakarta, 2009, Hal : 111
[9] Sudarsono , Filsafat Islam, PT Rineka Cipta, Jakarta, 2004 Hal : 38
[10] Beni Ahmad Saebandi, Filsafat Ilmu, CV Pustaka Setia, Bandung, 2009, Hal : 90
[11] Ibid Hal : 92

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar