Rabu, 04 April 2012

Makalah Akhlak

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmannirrohim
Segala puja dan puji syukur saya panjatkan kehadiran Allah SWT. Tuhan semesta alam penguasa dan pencipta alam semesta. Beribu-ribu bingkisan shalawat dan salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada junjunngan kita Nabi besar Muhammad SAW, yang telah mana beliau membawa kita dari zaman jahiliyah menuju zaman terang-benderang yaitu Ad-Dinul Islam.
            Dengan taufiq dan hidayah-Nya, Allhamdullilah saya bisa menyelesaikan tugas makalah Program Study Akhlak dengan judul Balasan Bagi Orang Yang Beriman dan Beramal Saleh dapat saya selesaikan walaupun dengan jangka waktu yang cukup lama dan masih banyak terdapat kekurangan. Hal ini dapat dimaklumi karena kemampuan saya sangatlah terbatas dan kodrat saya sebagai manusia yang tak lepas dari salah dan lupa. Penyelesaian dan penulisan makalah ini melalui proses yang cukup panjang dan telah banyak melibatkan bantuan oranag lain. Oleh karna itu, dengan rasa hormat dan kerendahan hati, saya menghaturkan untaian terima kasih kepada:
1.      Orang tua yang telah memberi motifasi kepada saya
2.      Dosen pembimbing yang telah membimbing saya.
3.      Dan segenap pihak yang telah membantu menyelesaikan makalah ini.
Hanya kepada Allah SWT jualah saya menyerahakn semua kebaikan yang telah diberikan, karena hanya Dialah yang dapat membalas kebaikan hamba-Nya dengan kebaikan yang setimpal. Amin!
            Akhirnya, saya menyadari bahwa banyak terdapat kekurangan dalam makalah ini, atas itu semua dengan tangan terbuka dan rasa hormat saya membuka diri unutk berdialog dan menerima saran dan kritik siapa saja demi kesempurnaan tugas-tugas selanjutnya. Semoga Allah SWT selalu memberikan hidayah-Nya bagi kita semua. Amin!



BAB II
PEMBAHASAN

Sebagaimana telah kita ketahui iman, percaya atau yakin merupakan inti dari lingkup sifat moral yang positif. Iman adalah sumber utama dari semua kebaikan islam, iman itu menciptakan semua kebaikan itu, dan tidak ada kebaikan dalam pemikiran islam, yang tidak didasarkan pada keyakinan penuh akan Allah dan wahyu-Nya. Mengetahui struktur sematik dari percaya itu sendiri, dapatlah diterima bahwa kita semua telah mengetahui semua hal penting itu, karena dengan mencoba mengalisis secara sematik istilah-istilah utama sifat negatif maka kita juga telah mendiskripsikan gambaran karakteristik orang beriman yang sebenarnya dalam pengertian islam dari sisi yang belawanan, sebagaimana adanya.
Sebelum kita membahas lebih dalam tentang makalah ini yang berjudul Balasan bagi Orang Yang Beriman dan Beramal Saleh marilah kita kutip kembali pengertian iman dan amal saleh.

A.    Pengertian Iman dan Amal Saleh
Iman dalam definisi para ulama adalah kebenaran atau kepercayaan yang kita pahami dan kebenaran yang kita yakini. Jadi disini kebenaran menyangkut aspek rasional dan emosional. Oleh karena itu iman menyangkut pengetahuan akal dan keyakinan hati.
Iman dan amal saleh adalah satu-kesatuan kebenaran yang sudah kita yakini dan pahami itu kita laksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Kita merupakan penjelmaan dari apa yang kita pikirkan dan rasakan. Ini membentuk cara kita bersikap atau berakhlak. Tahap afiliasi ini merupakan tahap diri kita untuk menjadi saleh secara pribadi. Pada umumnya kaum muslim baru pada komitmen ideologi (keyakinan umum) saja, sedangkan dua komitmen lainnya belum termiliki. Adalah wajar jika perjalanannya tersendat-sendat.
Beramal saleh berarti melakukan kebenaran-kebenaran yang telah dipahaminya tadi. Jika orang sudah beriman dan beramal saleh berarti, menurut Ibnu Qayyum, telah sempurna secara pribadi atau orang tersebut telah saleh secara pribadi. Islam tidak menginginkan orang itu menyimpan kesalehannya sendiri, tetapi sebaliknya, mendistribusikan kesalehannya pada orang lain. Proses menditribusikannya kesalehan pada orang lain itu juga berarti proses menjadi saleh secara sosial.
Mendistribusikan kesalehan kita secara pribadi agar orang lain menjadi saleh, itu yang dimaksud dengan saling berwasiat dalam kebenaran, kebenaran yang kita yakini dan amalkan. Jadi kebenaran itu telah melalui tiga tahap dalam diri kita: teoritis (pemahaman), emosional dan aplikasi. Sehingga keimanan bagi kita bukan hanya sebuah pengetahuan melainkan juga sebuah pengalaman.
      Oleh karna itu pengetahuan yang sudah menjadi pengalaman, sudah membaur dan memcampuradukkan akal, emosi dan cita rasa, inilah yang Rasulallah sebut dengan lezatnya iman. Dan kita sudah sampai pada tahap ini, kita harus mendistribusikannya pada orang lain. Orang yang beriman dan beramal saleh akan mendapatkan ketentraman hati baik didunia maupun diakhirat dan juga akan mendapatkan tempat kembali yang baik kelak diakhirat yaitu surga, sebagaimana firman Allah dalam surat Ar-Ar’d ayat 29.
šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=ÏJtãur ÏM»ysÎ=»¢Á9$# 4n1qèÛ óOßgs9 ß`ó¡ãmur 5>$t«tB ÇËÒÈ
Artinya :
“Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik”. (QS, Ar-Ra’d, 29)

B.     Tipe Orang Beriman yang Idealis
Bagaimana tipe orang yang beriman dalam pandangan Al-Qur’an, atau bagaimana seharusnya gambaran karakteristik dari iman. Secara singkat, bagaimana seseorang beriman yang idealis diharapkan bertingkah laku secara sosial dan relegius. Ini semua merupakan permasalahan yang paling penting yang harus kita tanyakan mengenai iman, dan tidak hanya secara umum tetapi juga dari sudut pandang kita yang spesifik, karena jawaban-jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan isi sematik dari makna kata iman (pecaya) dan orang yang beriman dalam konteks Al-Qur’an. Mari kita mulai dengan sebuah ayat di mana iman secara eksklusif dinilai dalam berbagai aspek religiusnya. Ayat ini mempunyai relevasi khusus dengan penelitian kita, karena memuat sebuah definisi verbal yang hampir sempurna mengenai orang beriman yang sesungguhnya, seperti firman Allah dalam surat Al-Anfaal, ayat 2-4.
$yJ¯RÎ) šcqãZÏB÷sßJø9$# tûïÏ%©!$# #sŒÎ) tÏ.èŒ ª!$# ôMn=Å_ur öNåkæ5qè=è% #sŒÎ)ur ôMuÎ=è? öNÍköŽn=tã ¼çmçG»tƒ#uä öNåkøEyŠ#y $YZ»yJƒÎ) 4n?tãur óOÎgÎnu tbqè=©.uqtGtƒ ÇËÈ šúïÏ%©!$# šcqßJÉ)ムno4qn=¢Á9$# $£JÏBur öNßg»uZø%yu tbqà)ÏÿZムÇÌÈ y7Í´¯»s9'ré& ãNèd tbqãZÏB÷sßJø9$# $y)ym 4 öNçl°; ìM»y_uyŠ yYÏã óOÎgÎnu ×otÏÿøótBur ×-øÍur ÒOƒÌŸ2 ÇÍÈ
Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan Hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia”. (QS, Al-Anfaal, 2-4).
Definisi verbal ini menggambarkan orang yang beriman dalam pengertian kata yang benar sebagai orang yang benar-benar saleh, yang di dalam hatinya selalu disebutkan asma Allah, dan ini cukup untuk membangkitkan rasa khidmat yang mendalam, serta orang yang keseluruhan hidupnya ditentukan oleh dorongan hatinya yang benar-benar mendalam. Kutipan berikut lebih menunjukkan manifestasi luar dari kesalehan, seperti firman Allah dalam surat At-Taubah ayat, 112.
šcqç6ͳ¯»­F9$# šcrßÎ7»yèø9$# šcrßÏJ»ptø:$# šcqßsÍ´¯»¡¡9$# šcqãèÅ2º§9$# šcrßÉf»¡¡9$# tbrãÏBFy$# Å$rã÷èyJø9$$Î šcqèd$¨Y9$#ur Ç`tã ̍x6YßJø9$# tbqÝàÏÿ»ysø9$#ur ÏŠrßçtÎ: «!$# 3 ÎŽÅe³our šúüÏZÏB÷sßJø9$# ÇÊÊËÈ
Artinya:
“Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat yang ruku', yang sujud, yang menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu”. (QS, At-Taubah, 112).
Keyakinan yang sungguh-sungguh akan menghasilkan motif yang paling kuat yang mendorong manusia untuk berbuat baik, jika tidak demikian maka keyakinan itu belum sungguh-sungguh. Sikap yang mendasar, seperti perasaan berdosa dan khidmat dihadapan Allah, patuh terhadap perintah Allah, rasa syukur terhadap nikmat Allah, semua unsur inilah yang memberikan ciri keimanan islam yang tertinggi, yang harus diwujudkan dalam perbuatan baik (salihat) yang telah diakui secara resmi. Selanjutnya, mereka harus menemukan ekspresi hampir setiap tindakan dalam hubungan antar manusia dalam kehidupan sehari-hari. Hubungan dasar antara keyakinan dengan perbuatan baik ini, kemudian dalam teologi menunjukkan makna penting yang tinggi ketika Murji’ah  menganjurkan pertanyaan itu dalam bentuk yang lebih keras denga menegaskan bahwa ’keyakinan’ merupakan perbuatan yang sangat independent, apapun dosa yang telah dilakukan seseorang tidak mempengaruhi diri seseorang sebagai ‘orang beriman’ yang sebenarnya jika hanya kenyakinan yang ada.
      Orang beriman yang sebenar-benarnya adalah sebagai berikut: Sikap dasar hilm, mencurahkan ibadah secara konstan, takut pada hari kiamat, memberikan zakat sebagai amal saleh yang paling penting, tanpa dengan mengarah pada sifat kedermawanan jahiliyah yang sifatnya hanya menurutkan kata hati dan sombong, menjauhi perbuatan jahil yang dilarang dengan tegas oleh Allah, seperti politisme, membunuh mahluk hidup tanpa alasan yang benar, berbuat zina, menghindari sumpah palsu dan omong kosong, perasaan yang tajam terhadap makna terdalam dari wahyu, dan ketentraman serta kebahagian hidup di dunia ini, berdasarkan harapan akan hari kemudian. Di mana kepatuhan absolute pada yang diperintahkan oleh Allah dituntut atas semua orang yang beriman karena merupakan syarat mutlak (sine qua non) dari keyakinan yang sebenar-benarnya. Orang beriman yang sebenar-benarnya dalam pandangan Al-Qur’an memberikan penekanan yang khusus.

C.    Hubungan Antara Iman dan Amal Saleh
Kita akan menegaskan lebih dahulu, bahwa ikatan yang paling kuat dari hubungan yang sematik yang mengikat saleh dan iman bersama-sama kedalam suatu unit yang hampir tidak dapat terpisahkan. Seperti banyangan yang mengikuti bentuk bendanya, di mana pun ada iman maka terdapat salihat atau perbuatan baik, sedemikian banyaknya sehingga kita hampir dapat merasa dibenarkan untuk mendefinisikan saleh dalam hubungan dengan iman, dan iman dalam kaitannya dengan saleh. Secara singkat salihat  adalah ‘iman’ yang di ungkapkan sepenuhnya dalam perbuatan luar. Dan ungkapan: alladhina amanu wa’amilual-salihat, ‘mereka yang beriman dan beramal saleh’, merupakan salah satu frase yang paling sering digunakan dalam Al-Qur’an. ‘Mereka yang beriman’ bukanlah orang yang beriman kecuali jika mereka memanifestasikan keyakinan yang mereka miliki di dalam hati ke dalam perbuatan tertentu yang pantas untuk memperoleh predikat saleh.
Sebagaimana telah saya tunjukkan sebelumnya, hubungan erat antara ‘yakin’ dengan ‘perbuatan baik’ dalam konsepsi Qur’anik ini kemudian dalam teologi memunculkan masalah yang sangat serius. Hal ini terutama di sebabkan oleh kenyataan bahwa ungkapan ‘mereka yang beriman dan beramal saleh’ dapat di interpretasikan dalam dua cara yang secara diametrik berlawanan. Di satu pihak, ditegaskan bahwa unsur ini demikian tidak dapat dipisahkan sehingga “yakin” tidak bisa dikonsepkan tanpa “amal perbuatan baik”, yakin dengan kata lain, tidak dapat menjadi sempurna jika tanpa ‘amal perbuatan baik’. Secara singkat ini adalah doktrin khawarij.
Di lain pihak, Al-Qur’an jelas menggunakan dua konsep yang berbeda, yaitu ‘iman’ dengan salihat, yang dapat diambil sebagai keterangan yang tidak dapat dibantah bahwa keduanya, sebenaranya merupakan dua hal yang berbeda. Menurut pandangan yang kedua ini, yaitu pandangan dari Murji’ah ‘yakin’ merupakan unit independen yang secara esensial tidak memerlukan unsur lain untuk menjadi sempurna. Mengapa Allah memisahkannya satu sama lain secara konseptual jika keduanya memang suatu keseluruhan yang tidak dapat di analisis. Dalam hal ini, memang bukannlah permasalahan Qur’anik, dan hal ini tidak kita bahas dalam konteks kita sekarang.
Kita harus kembali pada Al-Qur’an itu sendiri dan bertanya: apakah ‘perbuatan’ baik itu. Secara kontekstual, jelas bahwa ‘perbuatan baik’ adalah perbuatan saleh yang diperintahkan oleh Allah kepada semua orang yang beriman. Sebenarnya ayat 77/83 yang merupakan kelanjutan dari ayat yang di kutip itu dan yang diberikan sebagai perjanjian Allah dengan kaum Israel, dapat di ambil sebagai diskripsi ringkasan dari salihat. Perjanjian ini memuat lima unsur berikut: tidak menyembah selain Allah, berbuat baik (ihsan)  terhadap orang tua, kerabat dekat, anak yatim, dan orang yang membutuhkan, berbicara dengan baik kepada setiap orang, melakukan shalat, dan membayar zakat.
Dari kedua contoh berikut, yang pertama menekankan unsur monoteisme murni sebagai ‘amal salih’, dan yang kedua membahas shalat dan zakat seperti firman Allah dalam surat Al-Baqarah  ayat 277.
¨bÎ) šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=ÏJtãur ÏM»ysÎ=»¢Á9$# (#qãB$s%r&ur no4qn=¢Á9$# (#âqs?#uäur no4qŸ2¨9$# óOßgs9 öNèdãô_r& yZÏã öNÎgÎn/u Ÿwur ì$öqyz öNÎgøŠn=tæ Ÿwur öNèd šcqçRtóstƒ ÇËÐÐÈ
Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (QS, Al-Baqarah, 277).
Kata saleh tidak selalu mengkualifikasikan perbuatan manusia, kadang-kadang kita menemukan kata itu juga berlaku untuk manusia dengan suatu tipe tertentu. Suatu pembahasan singkat mengenai beberapa contoh yang masuk kedalam katagori ini akan membantu kita dalam menganalisis kandungan makna istilah ini.

D.    Rumah Yang Dijanjikan Bagi Orang Beriman dan Beramal Saleh (Surga)
Allah menjajikan bagi orang-orang yang beriman dan bagi orang-orang yang beramal saleh berupa cendera mata yaitu surga, Allah berfirman dalam surat As-Sajdah ayat, 17
xsù ãNn=÷ès? Ó§øÿtR !$¨B uÅ"÷zé& Mçlm; `ÏiB Ío§è% &ûãüôãr& Lä!#ty_ $yJÎ/ (#qçR%x. tbqè=yJ÷ètƒ ÇÊÐÈ

Artinya:
Tiada seorang pun tahu cendera mata apa yang masih tersembunyi bagi mereka sebagai balasan atas amal kebaikan yang mereka lakukan. (َََِِِQS. As-Sajdah, 17)
Surga adalah tempat yang dijanjikan bagi kaum muslim atas keimanan dan amal sholeh mereka kepada Allah dan ketaatan mereka kepada-Nya. Surga, sebagaimana terpapar dalam banyak ayat, merupakan tempat yang diselimuti dengan aneka jenis berkah dan merupakan tempat tinggal kebahagiaan abadi. Allah menghadiahkan surga bagi orang-orang yang beriman dan beramal sholeh sebagai pahala atas amal mereka di dunia. Surga adalah tempat pengungkapan sifat pemurah Allah (kemurahan yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang beriman dan beramal sholeh kepada Yang Maha Pemurah, Yang mengganjar orang-orang yang menggunakan berkah-Nya dengan tepat dengan berkah lain yang abadi dan lebih unggul). Karena itu, surga merupakan rumah kebahagiaan yang mengandung segala hal yang mungkin diinginkan oleh jiwa manusia melebihi paparan ayat-ayat tersebut.
Dalam benak sebagian manusia, kata “surga” membangkitkan pikiran yang agak terbatas, karena mereka menduga surga tempat keindahan alamiah belaka, seperti taman ria. Akan tetapi, surga yang merupakan pikiran ini amat berbeda dengan surga yang terpapar dalam Al-Qur’an. Dalam Al-Qur’an, surga dipaparkan sebagai tempat yang mengandung segala yang mungkin dikehendaki oleh manusia seperti firman Allah dalam surat Az-Zukhruf ayat 71:
ß$$sÜムNÍköŽn=tã 7$$ysÅÁÎ/ `ÏiB 5=ydsŒ 5>#uqø.r&ur ( $ygŠÏùur $tB ÏmŠÎgtGô±n@ ߧàÿRF{$# %s#s?ur ÚúãüôãF{$# ( óOçFRr&ur $ygŠÏù šcrà$Î#»yz ÇÐÊÈ
Artinya:
Diedarkan kepada mereka pinggan dan piala emas, di dalamnya ada yang menjadi idaman dan sedap dipandang mata, dan kamu akan kekal di dalamnya. (QS Az-Zukhruf, 71)
Di ayat lain, kita diberi tahu bahwa di surga bahkan terdapat lebih dari yang bisa diinginkan oleh manusia:
Mçlm; $¨B tbrâä!$t±o $pkŽÏù $oY÷ƒt$s!ur ÓƒÌtB ÇÌÎÈ
Artinya:
“Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi kami ada tambahannya”. (QS, Qaaf, 35)
Dengan kata lain, berlawanan dengan kepercayaan umum, surga menawarkan berkah yang berlimpah, berkah yang belum terlihat oleh manusia sepanjang hayat mereka di dunia ini dan bahkan tak terbayangkan oleh mereka. Orang-orang beriman  dan beramal saleh akan diberi pahala kehidupan kekal di surga atas ketaatan mereka kepada Allah semasa hidup di dunia dan atas jalan hidup mereka yang menuruti kehendak-Nya. Surga yang dijanjikan bagi orang-orang beriman dan beramal saleh ini dijelaskan dalam berbagai ayat seperti firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 25.
ÎŽÅe³o0ur šúïÏ%©!$# (#qãYtB#uä (#qè=ÏJtãur ÏM»ysÎ=»¢Á9$# ¨br& öNçlm; ;M»¨Yy_ ̍øgrB `ÏB $ygÏFøtrB ㍻yg÷RF{$# ( $yJ¯=à2 (#qè%Îâ $pk÷]ÏB `ÏB ;otyJrO $]%øÍh   (#qä9$s% #x»yd Ï%©!$# $oYø%Îâ `ÏB ã@ö6s% ( (#qè?é&ur ¾ÏmÎ/ $YgÎ7»t±tFãB ( óOßgs9ur !$ygŠÏù Ólºurør& ×ot£gsÜB ( öNèdur $ygŠÏù šcrà$Î#»yz ÇËÎÈ
Artinya:
“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu." mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang Suci dan mereka kekal di dalamnya”. (QS, Al-Baqarah, 25)

Allah juga berfirman dalam surat Al-Hijr, ayat 45-48
žcÎ) tûüÉ)­GßJø9$# Îû ;M»¨Zy_ AbqãŠããur ÇÍÎÈ $ydqè=äz÷Š$# AO»n=|¡Î0 tûüÏZÏB#uä ÇÍÏÈ $oYôãttRur $tB Îû NÏdÍrßß¹ ô`ÏiB @e@Ïî $ºRºuq÷zÎ) 4n?tã 9ãß tû,Î#Î7»s)tGB ÇÍÐÈ Ÿw öNßg¡yJtƒ $ygÏù Ò=|ÁtR $tBur Nèd $pk÷]ÏiB tûüÅ_t÷ßJÎ/ ÇÍÑÈ
Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir). (Dikatakan kepada mereka): "Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman”. Dan kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan. Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan daripadanya”. (QS, Al-Hijr, 45-48)
Allah juga menjelaskan dalam surat Al-Ankabuut ayat 58, bahwasannya orang yang beriman dan orang yang beramal saleh akan diberi tempat kediaman di surga.
tûïÏ%©!$#ur (#qãZtB#uä (#qè=ÏJtãur ÏM»ysÎ=»¢Á9$# Nßg¨ZsÈhqt6ãZs9 z`ÏiB Ïp¨Ypgø:$# $]ùtäî ̍øgrB `ÏB $uhÏGøtrB ㍻yg÷RF{$# tûïÏ$Î#»yz $pkŽÏù 4 zN÷èÏR ãô_r& tû,Î#ÏJ»yèø9$# ÇÎÑÈ
Artinya:
“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, Sesungguhnya akan kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang Tinggi di dalam syurga, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal“. (QS, Al-Ankabuut, 58)

E.     Pahala Bagi Orang yang Beriman dan Beramal Saleh
Sementara kenyataan bahwa zat (Allah) dan waktu merupakan serapan mengkhawatirkan para materialis, kenyataan sebaliknya berlaku bagi orang beriman dan beramal saleh. Orang beriman menjadi sangat senang ketika mereka menyerap rahasia yang ada di balik zat (Allah) itu, karena kenyataan ini merupakan kunci semua pertanyaan. Dengan kunci ini, semua rahasia dibuka. Orang menjadi mudah memahami banyak hal yang sebelumnya sulit dipahami.
Seperti yang kita ketahui, pertanyaan tentang kematian, neraka, akhirat, perubahan dimensi, dan pertanyaan seperti di mana Allah, apa yang sebelum Allah, siapa pencipta Allah, berapa lama kehidupan di alam kubur berlangsung, Di mana surga dan neraka, dan di mana surga dan neraka saat ini berada, mudah dijawab. Akan terpahami jenis tatanan seluruh alam yang diciptakan oleh Allah dari ketiadaan, semakin banyak semakin begitu. Dengan rahasia ini, pertanyaan "kapan" dan "di mana" menjadi tak berarti karena tiada lagi waktu dan tempat. Bila ketiadaan ruang dimengerti, akan dipahami bahwa neraka, surga, dan bumi semuanya itu sebenarnya ada di tempat yang sama. Jika ketiadaan waktu dimengerti, akan dipahami bahwa segala hal terjadi pada satu kejadian: ketiadaan itu ditunggu dan waktu tidak berlalu, karena segala sesuatu telah terjadi dan selesai.
Dengan terselidikinya rahasia ini, dunia menjadi seperti surga bagi orang beriman dan orang yang beramal saleh. Segala kekhawatiran, kecemasan, dan ketakutan material yang menyusahkan akan lenyap. Orang mengerti bahwa segenap alam memiliki kedaulatan tunggal, bahwa Ia mengubah seluruh dunia fisik sekehendak Dia dan bahwa yang wajib dilakukan oleh manusia adalah kembali kepada-Nya. Lalu ia menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah Memahami rahasia ini merupakan pahala terbesar di dunia ini.
Dengan rahasia ini, kenyataan lain yang sangat penting yang disebutkan di dalam Al-Qur'an tersingkap dalam firman Allah QS, Qaaf ayat 16:
ôs)s9ur $uZø)n=yz z`»|¡SM}$# ÞOn=÷ètRur $tB â¨Èqóuqè? ¾ÏmÎ/ ¼çmÝ¡øÿtR ( ß`øtwUur Ü>tø%r& Ïmøs9Î) ô`ÏB È@ö7ym σÍuqø9$#
Artinya:
“Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya”. (QS, Qaaf, 16)
Sebagaimana yang kita ketahui, urat leher itu di dalam tubuh. Apa yang dapat lebih dekat dengan seseorang daripada isi tubuh di dalamnya. Situasi ini bisa mudah dijelaskan dengan realitas ketiadaan tempat. Ayat ini juga bisa dipahami dengan lebih baik dengan memahami rahasia ini.
Hal ini merupakan kebenaran sederhana. Harus ditegakkan dengan baik bahwa tiada penolong dan penyedia bagi manusia selain Allah. Tidak ada apa pun kecuali Allah, Allah satu-satunya keberadaan mutlak yang dapat dimintai perlindungan, yang dapat dimohoni pertolongan dan pahala. Ke mana pun kita menghadap, di situ ada keberadaan Allah.





BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Dalam catatan sejarah islam, iman dan amal saleh ditandai dengan adanya penekanan pada persoalan-persoalan kerohanian (jiwa) dan kaitannya dengan kode etik (akhlak). Persoalan-persoalan itu berkisar pada sifat-sifat kebijakan dan kebahagian jiwa, tiga daya jiwa dan pengaruhnya pada perilaku, kontrol jiwa atau penyucian jiwa melalui iman dan amal saleh, disiplin dan hubungannya dengan masyarakat sehingga jiwa terbebas dari segala kejahatan mencapai kesempurnaan dan kebahagian yang tertinggi dan mampu membawa kita menuju rumah yang dijanjikan Allah yaitu surga.
      Apabila dilihat dalam koteks kehidupan diera dunia modern saat ini, yang ditandai dengan terjadinya perubahan dalam aspek kehidupan, termasuk dalam hal ini iman dan amal saleh dan kehidupan beragama, maka  menjadikan semua bentuk tatanan kehidupan yang dianggap telah mapan, tidak terkecuali bentuk-bentuk keputusan moral dan kode etik (akhlak) yang selama ini telah diyakini kebenarannya mulai dipertanyakan secara kritis dan rasional.
      Persoalan-persoalan mengenai iman dan amal saleh tidak lagi dapat dijawab hanya sebatas merujuk kepada suatu norma atau aturan yang telah berlaku demikian adanya, akan tetapi mesti dijawab dengan menggunakan alasan-alasan yang logis, sehingga dapat diketahui alasan-alasan untuk setiap keputusan dan perbuatan.
      Dilihat dari perspektif islam, tentulah jawaban-jawaban rasional semata mengenai iman dan beramal saleh yang terlepas dari  nilai-nilai agama tentu tidak dinginkan, karena keadaan seperti ini tidak kalah lebih jeleknya dari jawaban bentuk keputusan yang semata-mata hanya merujuk kepada norma yang tidak diiringi dengan penjelasan yang rasional seperti disinggung diatas. Upaya manusia memaksimalkan daya-daya jiwanya dalam mencapai akhlak  yang baik dan beriman yang sebenar-benarnya baik itu kepada Allah maupun kepada manusia dalam kehidupan modern ini.
B.     Rumusan masalah
Rumusan masalah merupakan sesuatu yang sangat penting sekali yang diharapkan mampu dalam sistematisasi isi dari seluruh proses penulisan makalah agar permasalahan ini tidak melebar. Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
  1. Apa yang dimaksud dengan iman dan amal saleh secara istilah dalam pandangan islam.
  2. Bagaimana tatacara seorang muslim beriman secara ideal menurut pandangan Al-Qur’an. Secara singkat, bagaimana seseorang beriman yang ideal diharapkan bertingkah laku secara sosial dan relegius. Ini semua merupakan permasalahan yang paling penting yang harus kita tanyakan mengenai iman, dan tidak hanya secara umum tetapi juga dari sudut pandang kita yang spesifik, karena jawaban-jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan isi sematik dari makna kata iman (percaya) dan orang yang beriman dalam konteks Al-Qur’an.
  3. Apa Hubungan antara iman dan amal saleh menurut pandangan Al-Qur’an, bahwasannya ikatan yang paling kuat dari hubungan yang sematik yang mengikat saleh dan iman bersama-sama yang hampir tidak dapat terpisahkan.
  4. Rumah apa yang dijanjikan Allah SWT atau balasan (pahala) apa yang akan didapat bagi orang-orang yang beriman dan bagi orang-orang yang beramal saleh.
  5. Seperti apa surga dan apa yang ada di dalam surga menurut pandangan Al-Qur’an.

C.    Tujuan
Iman dan amal saleh mempunyai ikatan yang sangat kuat dalam suatu unit yang hampir tidak dapat dipisahkan, seperti bayangan yang mengikuti bentuk bendanya, di manapun ada iman maka terdapatlah amal saleh. Setiap kaum muslim yang beriman dan selalu melakukan amal-amal saleh akan di beri balasan yang baik oleh Allah SWT yaitu surga, seperti firmanya dalam Al-Qur’an surat Ar-Ra’d ayat 29.
šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=ÏJtãur ÏM»ysÎ=»¢Á9$# 4n1qèÛ óOßgs9 ß`ó¡ãmur 5>$t«tB ÇËÒÈ
Artinya :
“Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik”. (QS, Ar-Ra’d, 29)
      Makalah ini dibuat dengan memiliki tujuan-tujuan penting yang sangat tepat dan bermanfaat bagi setiap pembaca dan kaum muslim. Adapun tujuan-tujuan dari makalah ini diantaranya:
Pertama, untuk menunjukkan atau menjelaskan makna iman dan amal saleh serta balasan bagi orang-orang yang mengamalkanya, dan juga menjelaskan ketentraman-ketentraman hati bagi mereka, dengan menggunakan sumber utama,  yaitu; Al-Qur’an dan Al-Hadits Nabi, dan menyoroti ide-ide dasarnya dalam bidang doktrin, ibadah, etika atau akhlak, dan perundang-undangan.
Kedua, tujuan utama di balik makalah ini dan yang paling penting adalah untuk merespon atau menarik simpati bagi pembaca dan kaum muslim agar mereka selalu beramal baik (saleh) dan juga bisa menambah atau memperkuat iman mereka, karena iman dan amal saleh itu termasuk akhlak atau etika kita kepada Allah dan kepada manusia.
Ketiga, tujuan yang ketiga ini adalah agar para pembaca dan kaum muslim tahu bagaimana cara beriman dan beramal saleh yang sebenarnya. Dan apa tujuan kita beriman dan beramal saleh, karena keduanya tersebut adalah obat hati yang akan membawa kita kepada kesehatan jiwa dan kesucian hati.




BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan dalam makalah ini dapat diambil kesimpulkan sebagai berikut:
1.      Iman, percaya atau yakin dan amal saleh itu merupakan inti dari lingkup sifat moral yang positif atau akhlak yang baik. Iman adalah sumber utama dari semua kebaikan islam, iman itu menciptakan semua kebaikan itu, dan tidak ada kebaikan dalam pemikiran islam, yang tidak didasarkan pada keyakinan penuh akan Allah, rasulnya, malaikatnya, wahyunya, dan juga kepada kodha dan kodar-Nya.
2.      Bahwasannya iman dan amal saleh adalah satu kesatuan yang hampir tidak dapat dipisahkan. Seperti bayangan yang mengikuti bentuk bendanya, di manapun ada iman maka terdapatlah amal saleh. Setiap kaum muslim yang beriman dan selalu melakukan amal-amal saleh akan diberi balasan yang baik oleh Allah SWT yaitu surga.
3.      Tipe-tipe orang yang beriman dalam pandangan Al-Qur’an, atau bagaimana seharusnya gambaran karakteristik dari iman. Secara singkat, bagaimana seseorang beriman yang ideal diharapkan bertingkah laku secara sosial dan relegius. Orang yang beriman dalam pengertian kata yang benar sebagai orang yang benar-benar saleh, yang di dalam hatinya selalu disebutkan asma Allah, dan ini cukup untuk membangkitkan rasa khidmat yang mendalam, serta orang yang keseluruhan hidupnya ditentukan oleh dorongan hatinya yang benar-benar mendalam.
4.      Surga adalah tempat yang dijanjikan bagi kaum muslim atas keimanan dan amal saleh mereka kepada Allah dan ketaatan mereka kepada-Nya. Allah menghadiahkan surga bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh sebagai pahala atas amal mereka di dunia. Surga adalah tempat pengungkapan sifat pemurah Allah (kemurahan yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh kepada Yang Maha Pemurah).
B.     Saran dan Kritik
Sebaik-baik iman dan amal saleh, ialah semangat mencari kebenaran yang lapang dan kebenaran yang luas, tidak sempit, toleran, tanpa kefanatikan, dan tidak membelenggu jiwa. Sebab itu iman dan amal saleh harus di pahami  sebagai rasa syukur dan rasa cinta kita kepada Allah SWT. Yang intinya ialah sikap hidup yang berserah diri (tawakal) kepada Tuhan. Iman dan amal saleh adalah sebuah akhlak atau etika kita kepada Allah dan kepada manusia.
Pemahaman kita kepada iman dan amal saleh adalah pemahaman yang terbuka, yang karena keterbukaannya itu bersikap inklusif dan mampu membawa kita menuju jalan kebenaran dan menuju kepada rumah yang telah dijanjikan oleh Allah SWT yaitu surga.
Pada masyarakat pluralistik dan relijius seperti Indonesia yang hidup dengan beragam keyakinan, budaya, dan strata sosial, iman dan amal saleh yang secara tegas menuntun dan membedakan antara pengembangan perilaku moral dogmatis dan perilaku moral etis untuk membentuk cara hidup yang lebih baik dan bijak, akan sangat memungkinkan untuk dijadikan sebagai inspiratif pengembangan akhlak atau kode etik di antara komunitas-komunitas masyarakat Indonesia dengan karakteristiknya, inilah yang menjadi pesan dasar yang utama dalam makalah ini.
Saya sadar, jika penyusunan makalah ini jauh dari kesempurnaan maka saya mengharap kritik dan saran dari para pembaca untuk kesempurnaan tugas-tugas selanjutnya.







DAFTAR PUSTAKA


Husen, Agus Fahri. 2003. Konsep-Konsep Etika Religius Dalam Al-Qur’an. Yogyakarta: PT TIARA WACANA YOGYA.
M. Amril, Dr.MA. 2002. Etika Islam Pemikiran Filsafat Moral Raqhib Al-Isfahani. Yogyakarta: PT PUSTAKA PELAJAR
Anis Matta, M.,H.Lc. 2002. Model Manusia Muslim. Bandung: PT SYAAMIL CIPTA MEDIA.
Madjid, Nurcholis. 2002. Pintu-Pintu Menuju Surga. Jakarta Selatan: PT PARAMADINA
Yahya, Harun. 2005. Memahami Allah Melalui Akal. E-Mail: Muhshodiq@ Yahoo. Com.
























BALASAN BAGI ORANG YANG BERIMAN
DAN BERAMAL SALEH

MAKALAH

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ilmu Akhlak
Yang dibimbing oleh Bapak Drs. H. Achmad Makmur, SH, M.Pdi.












Oleh:
Khoiri Fadli
(084 081 168)



JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) JEMBER
Juni, 2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar