Rabu, 04 April 2012

Makalah Psikologi : Motivasi

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Perbedaan Motiv dan Motivasi
Woodwort (1955) mengatakan “suatu motive adalah sesuatu yang dapat membuat individu melakukan kegiatan-kegiatan tertentu untuk mencapai tujuan.”dengan demikian, motivasi adalah dorongan yang dapat menimbulkan prilaku tertentu yang terarah kepada pencapaian suatu tujuan tertentu.prilaku atau tindakan yang di tunjukkan seseorang dalam upaya mencapai tujuan tertentu sangat tergantung dari motive yang dimilkinya.hal ini seperti di ungkapkan oleh Arden (1957)”motivesas internal condition arouse sustain,direct and determain the intensity of learning effort,and also define the set satisfying or unsatisfying consequences of goal”
Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa kuat lemahnya atau semangat tidaknya usaha yang di lakukan seseorang untuk mencapai suatu tujuan akan ditentukan oleh kuat lemahnya motive yang di miliki orang tersebut, dikatakan bahwa “motivasi adalah suatu perubahan energi dalam diri seseorang yang di tanda oleh munculnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan.dengan demikian, maka munculnya motivasi di tandai oleh adanya perubahan energi dalam diri seseorang yang mungkin disadari ataupun tidak.
B.    Pengertian motivasi
Motivasi adalah suatu pernyataan yang kompleks didalam suatu organisme yang mengarahkan tingkah laku suatu tujuan (goal) atau perangsang (incentive).
Ahmad Sudrajat (2008) motivasi dapat diartikan sebagai kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu kegiatan, baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik).
Keberhasilan belajar siswa dapat di tentukan oleh motivasi belajar yang memiliki motivasi belajar cendrung prestasinya pun akan tinggi pula.sebaliknya siswa yang motivasinya rendah,maka rendah pula prestasi belajarnya.sebab motivasi merupakan penggerak atau pendorong untuk melakukan tindakan tertentu.tinggi rendahnya motivasi dapat menentukan tinggi rendahnya usaha atau semangat seseorang untuk beraktivitas;dan tentu saja rendahnya semangat akan menentukan hasil yang di peroleh.
Dalam proses pembelajaran motivasi merupakan salah satu aspek dinamis yang sangat penting.sering terjadi siswa yang kurang berprestasi bukan di sebabkan oleh kemampuannya yang kurang, akan tetapi dikarenakan tidak adanya motivasi untuk belajar sehingga ia tidak berusaha  untuk mengerahkan semua kemampuannya.
C.    Pentingnya Sebuah Motivasi
Karena motivasi itu memiliki beberapa fungsi yang sangat bermanfaat bagi setiap individu, yaitu untuk menggerakkan atau menggugah seseorang agar timbul keinginan dan kemauannya untuk melakukan sesuatu sehingga dapat memperoleh hasil atau tujuan tertentu. Dari uraian diatas, jelaslah bahwa setiap motivasi itu bertalian erat dengan suatu tujuan, suatu cita-cita. Makin berharga tujuan itu bagi yang bersangkutan, makin kuat pula motivasinya. Jadi motivasi itu sangat berguna bagi tindakan atau perbuatan seseorang. Motivasi memiliki beberapa fungsi diantaranya :
1.      Motivasi itu dapat mendorong manusia untuk bertindak atau berbuat.
2.      Motivasi itu dapat berfungsi menentukan arah berbuatan. Yakni ke arah perwujudan suatu tujuan atau cita-cita.
3.      motivasi itu dapat menyeleksi perbuatan kita. Artinya menentukan peruatan-perbuatan mana yang harus dilakukan, yang serasi, guna mencapai tujuan itu dengan menyampingkan perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan itu.
Adapun fungsi motivasi dalam proses belajar mengajar adalah :
Bagi pendidik motivasi berfungsi yaitu, untuk membangkitkan, meniggkatkan, dan memelihara semangat siswa untuk belajar. Dan juga mengetahui serta memahami belajar siswa dikelas.
Bagi peserta didik motivasi memiliki fungsi sebagai berikut :
Ø  Menyadarkan kedudukan awal belajar, proses dan hasil akhir.
Ø  Menginformasikan tentang kekuatan usaha belajar.
Ø  Mengarahkan kegiatan belajar.
Ø  Membesarkan semangat belajar.
D.    Upaya Membangkitkan Motivasi Belajar Siswa
Untuk memperoleh hasil belajar yang optimal, guru dituntut kreatif membangkitkan motivasi belajar siswa. Dibawah ini dikemukakan beberpa petujuk untuk membangkitkan motivasi belajar siswa diantaranya :
  1. Memperjelas tujuan yang ingin dicapai
tujuan yang jelas dapat membuat siswa paham kearah mana yang ingin dibawah pemahaman siswa terhadap tentang tujuan pembelajaran dapat menumbuhkan minat siswa untuk belajar yang pada gilirannya dapat meningkatkan motivasi belajar mereka.
  1. Menciptakan suasana belajar yang  menyenangkan
Siswa hanya mungkin dapat belajar dengan baik, manakala ada dalam suasana yang menyenangkan, merasa aman bebas dari rasa takut suasana yang menyengkan memungkinkan siswa beraktifitas dengan penuh semangat dan penuh daerah.
  1. Ciptakan persaingan dan kerja sama.
Persangan atau kompetisi yang sehat dapat memberikan pengaruh yang baik untuk proses pembelajaran siswa. Melalui persaingan siswa dimungkinkan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memperoleh hasil yang terbaik.
1.      Kepuasan Dan Motivasi
Terdapat hubungan yang erat antara kepuasan seseorang yang di capai dengan motivasi artinya semakin seorang meraasa puas dengan pencapaian sesuatu, maka semakin tinggi motivasi seseorang untuk berprilaku sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Maka keputusan yang diperoleh siswa dari proses belajar yang telah dilakukannya untuk memunculkan unjuk kerja yanag lebih baik bagi setiapa siswa. Terdapat beberapa kodisi yang dapat dilakuakan untuk memberiklan kepuasan pada siswa yang dapat mendororng untuk berprilaku lebih baik yakni:
a. Imbalan hasil belajar
Imbalan hasil belajar adalah sesuatu yanag diperoleh siswa sebagai konsekkuensi dri upaya yang telah dilakukan sehingga terjadinya perubhan prilaku pada ytang bersangkutan baik prilaku dalam bidan kognoitif, afektif maupun psikomotorik.
b.      Rasa aman dalam belajar
Rasa aman seseorang dalam melakukan suatu aktivitas akan berpengruh kepada tingkat kepuasan seseorangb sehingga akan mempengaruhi juga terhadap semangat yang bersangkutan untuk mengeluarkan segala kemampuannya untuk memperoleh hasil yang lebih baik.
c.       Situasi lingkungan belajar
Aktivitas belajar yang dilakuakan dalam kondisi lingkungan yang baik, bersih dan sehat dapat memberikan kepuasan yang lebih baik dibandingkan dengan belajar yang dilakukan pada lingkungan yang tidak baik dan tidak sehat.
d.      Kesempatan untuk mengembangkan diri
Siswa berkecendrungan akan merasa puas dalam belajar manakala memiliki harapan yanga jelas untuk masa depannya, sebalikny siswa memiliki tidak akan merasa puas manakala tidak memahami kejelasan tentang manfaat mempelajari sesuatu untuk kehidupannya.
2.      Jenis-jenis Motivasi
Motivasi banyak jenisnya. Pembagian motivasi dapat di lihat dari perspektif kebutuhan dan perspektif fungsional,setra dari sifatnya.
a. Perspektif kebutuhan
Teori motivasi yang memandang dari sudut kebutuhan dim kembangkan oleh Maslow.menurut Maslow,kebutuhan manusia itu bertingkat-tingkat.individu akan merasa puas memenuhi kebutuhan pada taraf tertentu manakala pada taraf  sebelumnya kebutuhan telah terpenuhi.kebutuhan-kebutuhan itu adalah sebagai berikut:
1        Kebutuhan fisiologis,yaitu kebutuhan dasar yang harus di terpenuhi sebelum kebutuhan-kebutuhan yang lain terpenuhi.kebutuhan fisiologis meliputi kebutuhan rasa lapar,haus,kebutuhan istirahat, dan lain sebagainya
2        kebutuhan akan keamanan (security),yaitu kebutuhan rasa terlindungi, bebas  dari rasa takut dan kecemasan.
3        kebutuhan sosial, kebutuhan akan cinta kasih seperti rasa diterima oleh kelompok,perasaan dihargai dan dihormati oleh orang lain
4        kebutuhan untuk menjadi dirinya sendiri, yaitu kebutuhan untuk berprestise yang erat dengan kebutuhan  untuk mengembangkan bakat dan minat yang dimilikinya baik dalam bidang pengetahuan,sosial dan lain sebagainya.
b.      Pespektif fungsional
Perspektif ini membagi jenis motiasi dilihat dari konsep motivasi sebagai penggerak, harapan dan insentif. Motivasi sebagai penggerak adalahmotivasi yang memberi tenaga untuk aktivitas tertentu. Artinya aktivitas itu hanya mungkin terjadi apabila faktor pendorong yang menggerakakan seluruh energi yang tersedia.tanpa adanya penggerak idak mungkian akan terjadi aktivitas.penggerak iitu bisa datang  dari luar diri individu yang kemudian dinamakan sumber eksternal atau bisa muncul dari dalam yang dinamakan sumber internal.
     Motivasi yang didasarkan kepada harapan adalah motifasi yang memandang bahwa sesuatu itu pasti terjadi sesuai dengan harapan. Dengan demikian, motivasi itu bangkit karena adanya harapan tertentu yaitu harapan yang dapat memuaskan kebuuhannya. Manakala indifidu merasa sesuatu tidak akan muncul sesuai dengan harapan, maka motivasi itu akan melemah.
Motivasi yang di dasarkan kepada insentif adalah motivasi yang muncul oleh karena adanya tujuan yang nyata. Tujuan tersebut adalah sesuatu yang dapat mengakibatkan rasa senang, misalkan karena adanya hadiah atau pujian. Motivasi indifidu dapat di bangkitkan melalui insentif.
c.    Sifat motivasi
Di lihat dari sifatnya motivasi dapat dibedakan antara motivasi intrinsic dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsic adalah motivasi yang muncul dari dalam diri individu, misalkan siswa belajar karena di dorong oleh keinginannyua sendiri menambah pengetahuan, atau seseorang berolahraga tenis karena memang ia mencintai olahraga tersebut. Jadi dengan demikian, dalam motivasi intinsik tujuan yang ingin di capai ada dalam kegiatan itu sendiri.
Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang datang dari luar diri misalkan, siswa belajar dengan penuh semangat karena ingin mendapat nilai yang bagus seseorang berolahraga karena ingin menjadi juara dalam suatu turnamen. Dengan demikian, dalam motivasi ekstrinsik tujuan yang ingin di capai berada diluar kegiatan itu.
Dalam proses pembelajaran, motivasi intrinsik sulit untuk diciptakan oleh karena itu motivasi ini datangnya dalam diri siswa. Kita tidak akan tau seberapa besar motivasi intrinsik yang menyertai perbuatan siswa. Yang mungkin dapat dilakukan adalah dengan mengembangkan motivasi intrinsic untuk menambah dorongan kepada siswa agar lebih giat belajar. Menurut Oemar Hamalik (1995) munculnya motivasi intrinsic ataupun ekstrinsik dapat di pengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:
1        Tingkat kesadaran diri siswa atas kebutuhan yang mendorong tingkah laku/perbuatannyadan kesadaran atas tujuan belajar yang hendak di capainya.
2        Sikap guru terhadap kelas,artinya guru yang selalu merangsang siswa berbuat karah tujuan yang jelas dan bermakna,akan menumbuhkan sifat intrinsic;tetapi apabila selalu menitik beratkan pada rangsangan-rangsangan sepihak maka sifat ekstrinsik akan lebih dominant.
3        Pengaruh kelompok siswa, bila pengaruh kelompok siawa terlalu kuat maka motivasinya cendrung kearah ekstrinsik.
4        Suasana kelas juga berpengaruh terhadap munculnya sifat tertentu pada motivasi belajar siswa.
2.      Prinsip-Prinsip Motivasi Belajar
Dalam penerapan motivasi beljar untuk memperoleh hasil pembeljaran yang optimal, perlu diperhatikan prinsip-prinsip penerapan motivasi. Menurut Kenneth H. Hoover (Oemar Hamalik: 1995) mengemukakan prinsip-prinsip berikut yaitu,
a.       Pujian lebih efektif daripada hukuman. Hukuman bersifat menghentikan suatu perbuatan, sedangkan pujian bersifat menghargai hasil kerja yang telah dlakukan .
b.      Para siswa memiliki kebutuhan psikologis yang bersifat dasar yang perlu mendapat kepuasaan. Siswa berbeda-beda dalam memenuhi kebutuhan tersebut., bagi siwa yang dapat memenuhi kebutuhanya secara efektif melalui kegiatan-kegiatan belajar lebih sedikit memerlukan bantuan dibandingkan dengan siswa yang tidak dapat memenuhi kebutuhanya itu.
c.       Dorongan yang muncul dari dalam (instrink), lebih efektif dibandingkan dengan dorongan yang muncul dari luar (ekstrink) dalam menggerakkan motivasi belajar siswa.
d.      Tindakan-tindakan atau respon siswa yang sesuai dengan tujuan, perlu diberikan penguatan untuk memantapkan hasil belajar.
e.       Motivasi mudah menular kepada orang lain
f.       Pemahaman siswa yang jelas terhadap tujuan dapat membangnkkitkan motivasi belajar siswa
g.      Minat siswa untuk menyelesaikan tugas-tugas yang dibebankan oleh diri sendiri, akan lebih besar dibandingkan dengan tugas yang dibebankan oleh orang lain.
h.      Berbagai macam penghargaan seperti ganjaran yang diberikan dari luar kadang-kadang diperlukan untuk merangsang minat belajar siswa.

E.     Teori-Teori Motivasi Quantcast

1.      Teori Abraham H. Maslow (Teori Kebutuhan)
Teori motivasi yang dikembangkan oleh Abraham H. Maslow pada intinya berkisar pada pendapat bahwa manusia mempunyai lima tingkat atau hierarki kebutuhan, yaitu : (1) kebutuhan fisiologikal (physiological needs), seperti : rasa lapar, haus, istirahat dan sex; (2) kebutuhan rasa aman (safety needs), tidak dalam arti fisik semata, akan tetapi juga mental, psikologikal dan intelektual; (3) kebutuhan akan kasih sayang (love needs); (4) kebutuhan akan harga diri (esteem needs), yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status; dan (5) aktualisasi diri (self actualization), dalam arti tersedianya kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sehingga berubah menjadi kemampuan nyata.
Kebutuhan-kebutuhan yang disebut pertama (fisiologis) dan kedua (keamanan) kadang-kadang diklasifikasikan dengan cara lain, misalnya dengan menggolongkannya sebagai kebutuhan primer, sedangkan yang lainnya dikenal pula dengan klasifikasi kebutuhan sekunder. Terlepas dari cara membuat klasifikasi kebutuhan manusia itu, yang jelas adalah bahwa sifat, jenis dan intensitas kebutuhan manusia berbeda satu orang dengan yang lainnya karena manusia merupakan individu yang unik. Juga jelas bahwa kebutuhan manusia itu tidak hanya bersifat materi, akan tetapi bersifat pskologikal, mental, intelektual dan bahkan juga spiritual.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa lebih tepat apabila berbagai kebutuhan manusia digolongkan sebagai rangkaian dan bukan sebagai hierarki. Dalam hubungan ini, perlu ditekankan bahwa :
·         Kebutuhan yang satu saat sudah terpenuhi sangat mungkin akan timbul lagi di waktu yang akan datang;
·         Pemuasaan berbagai kebutuhan tertentu, terutama kebutuhan fisik, bisa bergeser dari pendekatan kuantitatif menjadi pendekatan kualitatif dalam pemuasannya.
·         Berbagai kebutuhan tersebut tidak akan mencapai “titik jenuh” dalam arti tibanya suatu kondisi dalam mana seseorang tidak lagi dapat berbuat sesuatu dalam pemenuhan kebutuhan itu.
Kendati pemikiran Maslow tentang teori kebutuhan ini tampak lebih bersifat teoritis, namun telah memberikan fundasi dan mengilhami bagi pengembangan teori-teori motivasi yang berorientasi pada kebutuhan berikutnya yang lebih bersifat aplikatif.
2.      Teori McClelland (Teori Kebutuhan Berprestasi)
Dari McClelland dikenal tentang teori kebutuhan untuk mencapai prestasi atau Need for Acievement (N.Ach) yang menyatakan bahwa motivasi berbeda-beda, sesuai dengan kekuatan kebutuhan seseorang akan prestasi. Murray sebagaimana dikutip oleh Winardi merumuskan kebutuhan akan prestasi tersebut sebagai keinginan: “Melaksanakan sesuatu tugas atau pekerjaan yang sulit. Menguasai, memanipulasi, atau mengorganisasi obyek-obyek fisik, manusia, atau ide-ide melaksanakan hal-hal tersebut secepat mungkin dan seindependen mungkin, sesuai kondisi yang berlaku. Mengatasi kendala-kendala, mencapai standar tinggi. Mencapai performa puncak untuk diri sendiri. Mampu menang dalam persaingan dengan pihak lain. Meningkatkan kemampuan diri melalui penerapan bakat secara berhasil.”
Menurut McClelland karakteristik orang yang berprestasi tinggi (high achievers) memiliki tiga ciri umum yaitu : (1) sebuah preferensi untuk mengerjakan tugas-tugas dengan derajat kesulitan moderat; (2) menyukai situasi-situasi di mana kinerja mereka timbul karena upaya-upaya mereka sendiri, dan bukan karena faktor-faktor lain, seperti kemujuran misalnya; dan (3) menginginkan umpan balik tentang keberhasilan dan kegagalan mereka, dibandingkan dengan mereka yang berprestasi rendah.
3.      Teori Clyton Alderfer (Teori “ERG)
Teori Alderfer dikenal dengan akronim “ERG” . Akronim “ERG” dalam teori Alderfer merupakan huruf-huruf pertama dari tiga istilah yaitu : E = Existence (kebutuhan akan eksistensi), R = Relatedness (kebutuhan untuk berhubungan dengan pihak lain, dan G = Growth (kebutuhan akan pertumbuhan)
Jika makna tiga istilah tersebut didalami akan tampak dua hal penting. Pertama, secara konseptual terdapat persamaan antara teori atau model yang dikembangkan oleh Maslow dan Alderfer. Karena “Existence” dapat dikatakan identik dengan hierarki pertama dan kedua dalam teori Maslow; “ Relatedness” senada dengan hierarki kebutuhan ketiga dan keempat menurut konsep Maslow dan “Growth” mengandung makna sama dengan “self actualization” menurut Maslow. Kedua, teori Alderfer menekankan bahwa berbagai jenis kebutuhan manusia itu diusahakan pemuasannya secara serentak. Apabila teori Alderfer disimak lebih lanjut akan tampak bahwa :
·         Makin tidak terpenuhinya suatu kebutuhan tertentu, makin besar pula keinginan untuk memuaskannya;
·         Kuatnya keinginan memuaskan kebutuhan yang “lebih tinggi” semakin besar apabila kebutuhan yang lebih rendah telah dipuaskan;
·         Sebaliknya, semakin sulit memuaskan kebutuhan yang tingkatnya lebih tinggi, semakin besar keinginan untuk memuasakan kebutuhan yang lebih mendasar.
Tampaknya pandangan ini didasarkan kepada sifat pragmatisme oleh manusia. Artinya, karena menyadari keterbatasannya, seseorang dapat menyesuaikan diri pada kondisi obyektif yang dihadapinya dengan antara lain memusatkan perhatiannya kepada hal-hal yang mungkin dicapainya.
4.      Teori Herzberg (Teori Dua Faktor)
Ilmuwan ketiga yang diakui telah memberikan kontribusi penting dalam pemahaman motivasi Herzberg. Teori yang dikembangkannya dikenal dengan “ Model Dua Faktor” dari motivasi, yaitu faktor motivasional dan faktor hygiene atau “pemeliharaan”.
Menurut teori ini yang dimaksud faktor motivasional adalah hal-hal yang mendorong berprestasi yang sifatnya intrinsik, yang berarti bersumber dalam diri seseorang, sedangkan yang dimaksud dengan faktor hygiene atau pemeliharaan adalah faktor-faktor yang sifatnya ekstrinsik yang berarti bersumber dari luar diri yang turut menentukan perilaku seseorang dalam kehidupan seseorang.
Menurut Herzberg, yang tergolong sebagai faktor motivasional antara lain ialah pekerjaan seseorang, keberhasilan yang diraih, kesempatan bertumbuh, kemajuan dalam karier dan pengakuan orang lain. Sedangkan faktor-faktor hygiene atau pemeliharaan mencakup antara lain status seseorang dalam organisasi, hubungan seorang individu dengan atasannya, hubungan seseorang dengan rekan-rekan sekerjanya, teknik penyeliaan yang diterapkan oleh para penyelia, kebijakan organisasi, sistem administrasi dalam organisasi, kondisi kerja dan sistem imbalan yang berlaku.
Salah satu tantangan dalam memahami dan menerapkan teori Herzberg ialah memperhitungkan dengan tepat faktor mana yang lebih berpengaruh kuat dalam kehidupan seseorang, apakah yang bersifat intrinsik ataukah yang bersifat ekstrinsik.
5.      Teori Keadilan
Inti teori ini terletak pada pandangan bahwa manusia terdorong untuk menghilangkan kesenjangan antara usaha yang dibuat bagi kepentingan organisasi dengan imbalan yang diterima. Artinya, apabila seorang pegawai mempunyai persepsi bahwa imbalan yang diterimanya tidak memadai, dua kemungkinan dapat terjadi, yaitu :
·         Seorang akan berusaha memperoleh imbalan yang lebih besar, atau
·         Mengurangi intensitas usaha yang dibuat dalam melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya.
Dalam menumbuhkan persepsi tertentu, seorang pegawai biasanya menggunakan empat hal sebagai pembanding, yaitu :
·         Harapannya tentang jumlah imbalan yang dianggapnya layak diterima berdasarkan kualifikasi pribadi, seperti pendidikan, keterampilan, sifat pekerjaan dan pengalamannya;
·         Imbalan yang diterima oleh orang lain dalam organisasi yang kualifikasi dan sifat pekerjaannnya relatif sama dengan yang bersangkutan sendiri;
·         Imbalan yang diterima oleh pegawai lain di organisasi lain di kawasan yang sama serta melakukan kegiatan sejenis;
·         Peraturan perundang-undangan yang berlaku mengenai jumlah dan jenis imbalan yang merupakan hak para pegawai
Pemeliharaan hubungan dengan pegawai dalam kaitan ini berarti bahwa para pejabat dan petugas di bagian kepegawaian harus selalu waspada jangan sampai persepsi ketidakadilan timbul, apalagi meluas di kalangan para pegawai. Apabila sampai terjadi maka akan timbul berbagai dampak negatif bagi organisasi, seperti ketidakpuasan, tingkat kemangkiran yang tinggi, sering terjadinya kecelakaan dalam penyelesaian tugas, seringnya para pegawai berbuat kesalahan dalam melaksanakan pekerjaan masing-masing, pemogokan atau bahkan perpindahan pegawai ke organisasi lain.
6.Teori penetapan tujuan (goal setting theory)
Edwin Locke mengemukakan bahwa dalam penetapan tujuan memiliki empat macam mekanisme motivasional yakni : (a) tujuan-tujuan mengarahkan perhatian; (b) tujuan-tujuan mengatur upaya; (c) tujuan-tujuan meningkatkan persistensi; dan (d) tujuan-tujuan menunjang strategi-strategi dan rencana-rencana kegiatan.
7.      Teori Victor H. Vroom (Teori Harapan )
Victor H. Vroom, dalam bukunya yang berjudul “Work And Motivation” mengetengahkan suatu teori yang disebutnya sebagai “ Teori Harapan”. Menurut teori ini, motivasi merupakan akibat suatu hasil dari yang ingin dicapai oleh seorang dan perkiraan yang bersangkutan bahwa tindakannya akan mengarah kepada hasil yang diinginkannya itu. Artinya, apabila seseorang sangat menginginkan sesuatu, dan jalan tampaknya terbuka untuk memperolehnya, yang bersangkutan akan berupaya mendapatkannya.
Dinyatakan dengan cara yang sangat sederhana, teori harapan berkata bahwa jika seseorang menginginkan sesuatu dan harapan untuk memperoleh sesuatu itu cukup besar, yang bersangkutan akan sangat terdorong untuk memperoleh hal yang diinginkannya itu. Sebaliknya, jika harapan memperoleh hal yang diinginkannya itu tipis, motivasinya untuk berupaya akan menjadi rendah.
8.      Teori Penguatan dan Modifikasi Perilaku
Berbagai teori atau model motivasi yang telah dibahas di muka dapat digolongkan sebagai model kognitif motivasi karena didasarkan pada kebutuhan seseorang berdasarkan persepsi orang yang bersangkutan berarti sifatnya sangat subyektif. Perilakunya pun ditentukan oleh persepsi tersebut.
Padahal dalam kehidupan organisasional disadari dan diakui bahwa kehendak seseorang ditentukan pula oleh berbagai konsekwensi ekstrernal dari perilaku dan tindakannya. Artinya, dari berbagai faktor di luar diri seseorang turut berperan sebagai penentu dan pengubah perilaku.
Dalam hal ini berlakulah apaya yang dikenal dengan “hukum pengaruh” yang menyatakan bahwa manusia cenderung untuk mengulangi perilaku yang mempunyai konsekwensi yang menguntungkan dirinya dan mengelakkan perilaku yang mengibatkan perilaku yang mengakibatkan timbulnya konsekwensi yang merugikan.
Contoh yang sangat sederhana ialah seorang juru tik yang mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik dalam waktu singkat. Juru tik tersebut mendapat pujian dari atasannya. Pujian tersebut berakibat pada kenaikan gaji yang dipercepat. Karena juru tik tersebut menyenangi konsekwensi perilakunya itu, ia lalu terdorong bukan hanya bekerja lebih tekun dan lebih teliti, akan tetapi bahkan berusaha meningkatkan keterampilannya, misalnya dengan belajar menggunakan komputer sehingga kemampuannya semakin bertambah, yang pada gilirannya diharapkan mempunyai konsekwensi positif lagi di kemudian hari.
9.      Teori Kaitan Imbalan dengan Prestasi.
Menurut model ini, motivasi seorang individu sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Termasuk pada faktor internal adalah : (a) persepsi seseorang mengenai diri sendiri; (b) harga diri; (c) harapan pribadi; (d) kebutuhaan; (e) keinginan; (f) kepuasan kerja; (g) prestasi kerja yang dihasilkan.
Sedangkan faktor eksternal mempengaruhi motivasi seseorang, antara lain ialah : (a) jenis dan sifat pekerjaan; (b) kelompok kerja dimana seseorang bergabung; (c) organisasi tempat bekerja; (d) situasi lingkungan pada umumnya; (e) sistem imbalan yang berlaku dan cara penerapannya.
F.     Cara Memotivasi Diri
Motivasi belajar tidak akan terbentuk apabila seseorang tersebut tidak mempunyai keinginan, cita-cita, atau menyadari manfaat belajar bagi dirinya. Oleh karena itu, dibutuhkan pengkondisian tertentu, agar diri kita atau siapa pun juga yang menginginkan semangat untuk belajar dapat termotivasi.
Terdapat 2 faktor yang membuat seseorang dapat termotivasi untuk belajar, yaitu:
Pertama, motivasi belajar berasal dari faktor internal. Motivasi ini terbentuk karena kesadaran diri atas pemahaman betapa pentingnya belajar untuk mengembangkan dirinya dan bekal untuk menjalani kehidupan.
Kedua, motivasi belajar dari faktor eksternal, yaitu dapat berupa rangsangan dari orang lain, atau lingkungan sekitarnya yang dapat memengaruhi psikologis orang yang bersangkutan.
Untuk bisa melakukan motivasi terhadap diri kita, kita harus tahu apa tujuan yang ingin kita capai. Lalu kita harus mengembangkan perencanaan jangka pendek maupun jangka panjang. Jalan mana yang akan kita pilih, haruslah mendukung dan sesuai logika. Kita tidak bisa memilih jalan yang kita sendiri tahu bahwa kita tidak akan sanggup menjalaninya. Akhirnya yang akan kita temui adalah kegagalan dan keputusasaan sebelum kita mampu mencapai tujuan kita tersebut. Dibawa ini ada beberapa cara untuk memotivasi diri :
1.      Berhentilah menunda
Menunda-nunda adalah hal yang bisa membunuh impian kita. Juga mampu membunuh motivasi dalam diri kita sendiri. Tetapkan batas waktu untuk mencapai satu tujuan, dan berpeganglah dengan batas waktu yang kita tentukan sendiri. Dengan memiliki perasaan dikejar batas waktu, kita juga akan lebih fokus dan berusaha untuk memenuhi tujuan tersebut. Namun berhati-hatilah dengan menentukan batas waktu, jangan sampai waktu yang kita tentukan sendiri membuat kita stres dan frustasi, sehingga malah merusak mental dan pikiran kita. Pikirkanlah batas waktu yang tepat dan tetap membuat anda nyaman dalam menjalaninya. Terburu-buru juga bukanlah hal yang baik.
2.      Menghadiahi diri sendiri
Setiap orang merasa senang bila diberikan hadiah atau penghargaan ketika menyelesaikan sesuatu atau tujuan tertentu. Jadi cobalah untuk memberikan hadiah atau menghargai diri kita sendiri ketika kita menyelesaikan satu bagian dalam perencanaan kita untuk mencapai tujuan akhir kita. Hal ini membuat kita akan memiliki harapan untuk bisa menyelesaikan bagian-bagian berikutnya untuk memperoleh hadiah yang lebih baik. Kita bisa coba berjanji pada diri sendiri, misalnya ; kita tidak akan membeli baju baru sampai salah satu rencana kita selesai. Jadi ketika rencana tersebut selesai kita akan memiliki rasa bangga pada diri sendiri.
Ingat juga, setelah kita menyelesaikan satu rencana cobalah membuat rencana baru lagi dan pastikan batas waktunya. Orang yang sukses akan selalu mencari cara untuk mengembangkan diri mereka dan kehidupan mereka.
3.      Bersenang-senanglah
Dalam melakukan pekerjaan kita sering dihadapkan dengan masalah ataupun beban pikiran yang berat, jadi rasa humor yang cukup bisa menjadi salah satu kunci untuk sukses. Cobalah untuk tidak terlalu berat memikirkan masalah dan pekerjaan. Belajarlah untuk menikmati apa yang kita lakukan setiap hari, sehingga kita bisa tetap termotivasi dan merasa antusias. Dan dengan tetap memiliki perasaan tersebut, kita bisa membantu diri sendiri mengontrol tingkat stres yang kita miliki.
Motivasi diri sendiri memiliki keuntungan tersendiri dan juga memacu diri kita untuk bisa lebih berkembang, lebih baik, dan mengarah pada kesuksesan. Dengan memotivasi diri sendiri, berarti kita juga bisa menciptakan jalan-jalan baru untuk melangkah mencapai tujuan kita
G.    Upaya Menghadapi Krisis Motivasi
1.      Hindari Rasa Malas
Rasa malas juga menggambarkan hilangnya motivasi seseorang untuk melakukan pekerjaan atau apa yang sesungguhnya dia inginkan. Rasa malas jenis yang satu ini relatif lebih bisa ditanggulangi. Nah, bagaimana cara mengatasinya? Berikut kiat-kiatnya:
a.       Membuat Tujuan
Orang yang malas biasanya tidak memiliki motivasi untuk berkembang ke arah kehidupan yang lebih baik. Sementara orang yang tidak memiliki motivasi biasanya tidak memiliki tujuan-tujuan hidup yang pantas dan layak untuk diraih. Dan orang yang tidak memiliki tujuan-tujuan hidup, biasanya sangat jarang bahkan mungkin tidak pernah menuliskan resolusi atau komitmen-komitmen pencapaian hidup.
Di sinilah pangkal persoalannya. Tanpa tujuan, resolusi, atau komitmen-komitmen pencapaian hidup, maka seseorang hanya bergerak secara naluriah dan sangat rentan diombang-ambingkan situasi di sekelilingnya. Posisi seperti ini membuatnya menjadi pasif, menunggu, tergantung pada situasi, dan cenderung menyerah pada nasib. Dalam keadaan seperti ini, tidak akan ada motivasi untuk meraih atau mencapai sesuatu. Tidak adanya sumber-sumber motivasi hidup menyebabkan kemalasan.
b.      Mengasah Kemampuan
Orang yang memiliki tujuan-tujuan hidup yang pasti, membuat resolusi dan komitmen-komitmen pencapaian biasanya memiliki motivasi tinggi. Tetapi tujuan yang samar-samar jelas tidak memberikan dampak motivasional yang signifikan. Nah, akan lebih baik lagi jika tujuan- tujuan dilengkapi dengan aktivitas-aktivitas pembelajaran, seperti mencari cara-cara yang efisien dan efektif untuk mencapai tujuan- tujuan tersebut. Kita juga perlu sekali mengasah kemampuan atau ketrampilan-ketrampilan supaya langkah-langkah yang diambil itu akan membawa kita pada pencapaian tujuan secara efektif dan efisien. Karena dengan sendirinya semakin memperkuat rasa percaya diri kita, menebalkan komitmen pencapaian tujuan, dan tentu saja menumbuhkan motivasi.
c.       Pergaulan Dinamis
Situasi atau lingkungan di mana kita berada sungguh ada pengaruhnya. Orang yang mulai dihinggapi rasa malas sangat dianjurkan agar menjauhi mereka yang juga mulai diserang kebosanan, putus asa, rasa enggan, apalagi negative thinking. Sepintas, berkeluh kesah dengan mereka dengan orang-orang seperti itu dapat melegakan hati. Ada semacam rasa pelepasan dari belenggu psikologis. Walau demikian, dalam situasi malas sedang menyerang, mendekati orang-orang yang sedang down sama sekali tidak menolong satu sama lain. Rasa malas dan kebuntuan justru bisa tambah menjadi-jadi. Ini bisa menjerumuskan masing-masing pihak pada pesimisme, keputusasaan, dan kemalasan total.

d.      Disiplin Diri
Ada sebuah ungkapan yang sangat dalam maknanya dari Andrie Wongso, Motivator No.1 Indonesia, yang bunyinya; “Jika kita lunak di dalam, maka dunia luar akan keras kepada kita. Tapi jika kita keras di dalam, maka dunia luar akan lunak kepada kita”. Kata-kata mutiara yang luar biasa ini menegaskan, bahwa jika kita mau bersikap keras pada diri sendiri, dalam arti menempa rasa disiplin dalam berbagai hal, maka banyak hal akan bisa kita kerjakan dengan baik. Sikap keras pada diri sendiri atau disiplin itulah yang umumnya membawa kesuksesan bagi karir para olahragawan dan pekerja professional yang memang menuntut sikap disiplin dalam banyak hal. Bayangkan, bagaimana seorang atlet bisa menjadi juara jika dia tidak disiplin berlatih? Bagaimana mungkin ada pekerja profesional yang bagus karirnya jika dia sering mangkir atau bolos?
Rasa malas jelas merugikan. Obat mujarabnya adalah menumbuhkan kebiasaan mendisiplinkan diri dan menjaga kebiasaan positif tersebut.Sekalipun seseorang memiliki cita-cita atau impian yang besar, jika kemalasannya mudah muncul, maka cita-cita atau impian besar itu akan tetap tinggal di alam impian. Jadi, kalau Anda ingin sukses, jangan mempermudah munculnya rasa malas. Dengan menghindari rasa malas maka kita akan mampu menghadapi krisis motivasi ini.
2.Bersikap Optimis
Bersikap optimis dalam menjalani kehidupan. Sekecil apa pun yang kita lakukan, selagi disertai ketulusan, pasti akan diberi balasan oleh Allah [QS Ali 'Imran [3]: 195]. Rahmat Allah sangatlah luas, “Maka janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah”, demikian QS Yusuf [12]: 87. Sikap optimis inilah yang akan memberi dorongan kuat dalam diri untuk berkarya, berkreasi dan berprestasi, dan mampu menhadapi krisis motivasi yang kini telah terjadi.
Seseorang yang optimis dan berfikir positif akan diliputi ketenangan dan hidup yang stabil. Kebaikan akan diterima sebagai anugrah yang patut disyukuri, bukan berkeluh-kesah tentang apa-apa yang tidak dipunyainya. Musibah akan dihadapi sebagai cobaan yang membuatnya tertantang untuk menggapai hikmah [kebaikan] di balik itu.


 DAFTAR PUSTAKA

Dalyono, M. 2009. Psikologi Pendidikan. Jakarta : PT Renika Cipta.
Indrakusuma, Amir Dalen. 1973. Pengantar Ilmu Pendidikan. Surabaya : Usaha Nasional.
Purwanto, Ngalim. M. 1992. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Sanjaya, Wina. 2009. Kurikulum Dan Pembelajaran. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.
Soemanto, Wasty. 1983. Psikologi Pendidikan Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan. Jakarta : PT Renika Cipta.







BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Keberhasilan belajar siswa dapat di tentukan oleh motivasi belajar yang dimilikinya, motivasi belajar yang tinggi cendrung prestasinya pun akan tinggi pula. Sebaliknya siswa yang motivasinya rendah, maka rendah pula prestasi belajarnya. Sebab motivasi merupakan penggerak atau pendorong untuk melakukan tindakan tertentu. Tinggi rendahnya motivasi dapat menentukan tinggi rendahnya usaha atau semangat seseorang untuk beraktivitas, dan tentu saja rendahnya semangat akan menentukan hasil yang di peroleh.
Dalam proses pembelajaran motivasi merupakan salah satu aspek dinamis yang sangat penting. Sering terjadi siswa yang kurang berprestasi bukan di sebabkan oleh kemampuannya yang kurang, akan tetapi dikarenakan tidak adanya motivasi untuk belajar sehingga ia tidak berusaha untuk mengerahkan semua kemampuannya. Bahwa kuat lemahnya atau semangat tidaknya usaha yang di lakukan seseorang untuk mencapai suatu tujuan akan ditentukan oleh kuat lemahnya motive yang di miliki orang tersebut, dikatakan bahwa “motivasi adalah suatu perubahan energi dalam diri seseorang yang di tandai oleh munculnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. Dengan demikian, maka munculnya motivasi di tandai oleh adanya perubahan energi dalam diri seseorang yang mungkin disadari ataupun tidak.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan motivasi ?
2.      Mengapa motivasi itu penting dalam dunia pendidikan ?
3.      Bagaimana cara memotivasi seseorang ?




BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Kata motivasi berasal dari akar kata "motive" atau "motiwum" yang berarti 'a moving cause' yang berhubungan dengan 'inner drive, impulse, intension'. Kata "motive" atau"motif" ini bila berkembang menjadi motivasi, artinya menjadi 'sedang digerakkan atau telah digerakkan oleh sesuatu, dan apa yang menggerakkan itu terwujud dalam tindakan'. Motivasi bersumber dari dorongan, maka dapat ditemukan bahwa sumber dorongan itu bisa datang dari dalam atau dari luar. Dengan demikian, motivasi ialah kekuatan yang mendorong untuk bertindak atau dorongan oleh kekuatan dari dalam ataupun dari luar (yang dilakukan dengan mendorong atau menarik). Motivasi jelas datang dari pelbagai macam sumber. Motivasi dapat digerakkan oleh kebutuhan (yang kompleks) seseorang, ataupun dorongan dari seorang motivator yang memberi pengaruh motivasi kepada orang lain.
Motivasi sangatlah penting dalam dunia pendidikan, karena dengan motivasi yang tinggi dapat menyelesaikan suatu tujuan yang telah diprogram, karena motivasi berfungsi untuk membangkitkan, meniggkatkan, dan memelihara semangat siswa untuk belajar. Dan juga mengetahui serta memahami belajar siswa dikelas. Dengan motivasi ini maka tujuan pendidikan yang diharapkan akan tercapai sesuai dengan apa yang diharapkan dalam dunia pendidikan tersebut.
Hal ini dapat dilakukan dengan membangun, mendorong, serta mendukung semangat dan moral dengan gaya positif (untuk menghindari manipulasi). Seseorang perlu memberikan dorongan agar orang-orang tersebut belajar menghargai sesuatu dan bersyukur untuk setiap hasil yang telah dicapainya. Mereka harus disadarkan, bahwa berprestasi dalam suatu pekerjaan justru menaikkan harga diri mereka. Mereka juga perlu diberi dorongan untuk bekerja aktif yang dilakukan dengan sukacita, sehingga membawa manfaat positif serta nilai lebih bagi dirinya.



URGENSI MOTIVASI DALAM
DUNIA PENDIDIKAN

MAKALAH

Disusun untuk memenuhi tugas Matakuliah Psikologi Pendidikan
Yang dibimbing oleh Drs. HM. Yusuf Ridwan, M. Pd.I



                    Khoiri Fadli                 084 081 16



JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) JEMBER
Mei, 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar